Tuesday, April 22, 2008

mata bukan ilalang*

Di Matamu Yang Ilalang oleh ghe

Bad news first, nggak apa-apa, karena saya kira akhirnya puisi ini cukup kuat untuk mendengarkannya. Mungkin ada empat, pertama kata ilalang itu, yang sudah terlalu sering kita dengar di segala sesuatu yang 'puitis', dari D. Zawawi Imron's ‘Bulan Tertusuk [I]lalang’ sampai nama komunitas yang penyairnya banyak dimuat di Kompas Minggu. Kemudian matamu itu sendiri, sesuatu yang klise juga di bahasa puisi Indonesia. Contoh, satu saja dari segudang yang ada di toko buku Jose Rizal di tim misalnya adalah judul kumpulan puisi Johannes Sugianto tahun lalu ‘Di Lengkung Alis Matamu’ (bahkan di sini matamu ini sama sekali tidak perlu, alis ada di mana lagi kalau bukan di mata? ke mana aja editornya?). Kemudian pembandingan dua hal itu, ilalang dan matamu. Satu hal klise dibandingkan dengan satu hal klise lain. Two wrongs don't make a right, they make a bigger wrong!

Kemudian beberapa kata di dalam puisinya sendiri (selama ini kita baru sampai di judulnya), 'rinai', '[ku]riap', '[ber]kelindan', dan 'rekata', yang, selain juga kedengaran terlalu berbau halaman puisi Kompas Minggu, saya juga tidak langsung mengerti artinya. ini mungkin tidak langsung jelek. Walaupun bau basi, kalau kata-kata itu memang punya alasan kuat ada di situ, benar-benar dipilih untuk mengatakan sesuatu (atau bunyi, ini hal lain lagi, sekarang kita bicara maknanya dulu) yang memang tidak bisa dikatakan oleh kata lain, bukan hanya karena ingin 'puitis', ya mungkin memang harus dipakai. Kerak nasi aja bisa enak. Tapi, ini adalah hal yang buat saya perlu dipikirkan juga. Make it new! Kata beribu-ribu penyair (sebuah klise juga), tapi namanya juga klise, ada benarnya. Punya masalah nggak kita menulis puisi yang bunyinya (paling tidak) sama saja dengan banyak puisi lainnya? Apa nggak lebih baik bikin sesuatu yg baru? Atau mungkin si penulis puisi ini justru memilih hal yang lebih radikal dan susah lagi, memakai kata-kata klise tadi tapi memakainya dengan maksud yang spesifik, spesifik untuk tujuan puisinya ini? Sehingga yg tadinya klise jadi tidak klise lagi?

Okelah kita lihat. Pertama rinai. Saya lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Atau ini salah. Sebenarnya sebelum saya ambil KBBI saya sudah membaca puisi ini beberapa kali. Entah kenapa mengingatkan saya pada puisi Frans Nadjira 'Mimpi Dalam Demam' (saya lampirkan di bawah).* Mungkin karena saya jadi membayangkan pegunungan dan padang rumput yang berangin. Ya, gambarnya cukup jelas saya rasa, walaupun memakai kata-kata yang klise seperti ilalang dan rumput dan bintang. Mata itu tidak berlama-lama menjadi mata, langsung lenyap mejadi ilalang dan mulailah fantasi narator puisi ini, sebuah fantasi yang cukup kuat. Dia menemukan dirinya di padang ilalang dengan 'angin yang rinai', rebah, atau ingin rebah di atasnya, kalau dia bisa rebah di situ dia akan me'riap' rumput yg berkelindan di dada (sampai di sini sebenarnya agak membingungkan, ini dada siapa? Bukankah tadi dia ada di mata si penerima sajak ini? Tapi dada siapa sebenarnya akan jelas setelah kita tahu apa sebenarnya maksud si narator dengan 'kuriap' dan 'berkelindan' jadi ini nanti kita bahas pas membahas dua kata itu saja), kemudian telentang menatap 'rekata' (yg tadinya saya kira semacam compound rekat+kata, dan saya sempat miris membayangkan, oh no, not another poem ABOUT a poem! Kata-kata tentang kata-kata! Tapi tenang, saya salah kok), dan menanti hujan bintang. Lucu, saya membayangkannya seperti campuran stardust dan angin rumput savanna.

Menurut KBBI 'hari rinai' ternyata berarti 'hari hujan rintik2' tapi 'rinai' sebagai kata kerja (merinai) juga berarti 'bersenandung, bernyanyi-nyanyi kecil'. Ini kejutan yang menyenangkan. Mungkin penulis sajak ini memang merasa harus memakai kata rinai ini karena dia memang membayangkan dua hal sekaligus, di padang ilalang yang mata pacarnya itu mungkin memang hujan sedang turun rintik-rintik dan lagi ada angin yang bernyanyi-nyanyi kecil. Lucu bukan? Yah, mungkin juga si penulis sajak ini tidak memakai KBBI dan mungkin juga dari dua arti rinai itu mungkin di kepalanya hanya ada satu (mungkin yang 'bernyanyi-nyanyi kecil' karena dia meletakkan rinai begitu dekat ke angin, tapi bisa juga kan itu angin besar yang mulai membawa gerimis, yang mungkin belum turun di situ tapi sudah deras di padang seberang sana?), tapi bagi saya walaupun misalnya penyairnya tidak sengaja—dan saya sih entah kenapa yakin penyair ini cukup sengaja, bahwa saya bisa, punya kemungkinan, membaca rinai itu seperti itu tetap menyenangkan. I don't care if the author's dead or alive, as long as his words are alive. dan 'rinai' ini, so alive!

Perhitungkan juga kemungkinan hubungan rinai yg hujan ini dengan 'hujan bintang' di baris terakhir. Saya tadi sudah cukup senang dengan gambar hujan bintang di padang ilalang, dan sekarang setelah tahu mungkin sebelum hujan bintang itu sudah ada hujan rintik-rintik di situ, gambar ini jadi lebih lucu dan kompleks lagi: apakah si narator ini ternyata agak tersiksa juga di padang itu dengan segala macam gerimis dan anginnya dan sedang menanti langit cerah dan bintang-bintang muncul lagi? Dan kalau kita ingat lagi padang ilalang ini sebenarnya adalah mata kekasihnya, apakah hujan berarti air mata? Apakah mereka habis berantem dan sekarang si penyair ini sedang membujuk pacarnya supaya baikan? Supaya matanya penuh bintang lagi (ingat, mata juga sering sekali dibandingkan atau diasosiasikan dengan bintang bahkan di buku diary anak SMP)? Jadi ternyata di puisi yang awalnya hanya kelihatan romantis dan menye ini sebenarnya juga tersembunyi kesedihan? Oke, oke sekali pilihan kata rinai ini ternyata.

Kemudian [ku]'riap' dan [ber]'kelindan'. kbbi bilang 'meriap' = 'tumbuh atau bertambah besar; bertambah banyak', sementara 'berkelindan' (yang sekarang pasti akan anda dengar di seminar akademik di mana saja sebagai bagian dari ekspresi du jour 'berjalin berkelindan', padahal mungkin maksudnya cuma 'ada hubungannya') = 'erat menjadi satu', tapi 'kelindan' sendiri adalah kata benda arkaik yang berarti 'benang yang baru dipintal' atau 'benang yang sudah dimasukkan ke dalam lubang jarum.' Yay! So many possibilities! Bayangkan, berarti 'dada' ini kelihatannya adalah dada si penyair, dia rebah (di punggungnya) di padang ilalang itu, dan melihat di dadanya ada rumput yg tumbuh (dan berarti dia telanjang dada bukan, di tengah angin dan hujan rintik2 itu, nggak dingin? Mungkin semarah itukah pacarnya padanya sehingga dia (harus) merasa begitu tersiksa? Atau dia memang drama queen dan lagi cari simpati?).

Mungkin jelas di sini rumput adalah metafor untuk cinta, cinta si penyair pada si pemilik mata/ilalang, yang tumbuh langsung dari dadanya, yang ingin ia 'riap' supaya 'bertambah besar dan banyak'. Yang lebih menarik lagi bagi saya adalah bahwa rumput itu sudah berkelindan di dadanya. Bukan hanya cintanya yg ada di situ tapi juga cinta pacarnya, mereka sudah 'erat menjadi satu.' Buat saya di sini pun sudah jelas ada metafor seksual di sini, yang dibuat jadi semakin kuat dan spesifik dengan arti arkaik 'kelindan' tadi. mungkin cinta mereka adalah cinta yg baru, seperti 'benang yg baru dipintal', walaupun begitu benang itu 'sudah dimasukkan ke dalam lubang jarum'. Obvious sexual metaphor!

Dan menjadi semakin misterius dan menggelitik lagi kalau kita ingat pepatah 'seperti menegakkan benang basah'. Apakah ini masalahnya kenapa mereka berantem??? Karena benangnya (entah benang/penis siapa karena tidak ada petunjuk jelas siapa yang cowok dan siapa yang cewek, atau apakah cowok dan cewek atau cowok dan cowok atau cewek dan cewek—walaupun saya punya perasaan entah kenapa penulis sajak ini cowok) tidak pernah bisa tegak? (tentu saja benang bisa diinterpretasikan sebagai cinta itu sendiri, cinta mereka seperti rumput yg seperti benang yg tidak pernah bisa tegak (karena basah terus karena hujan rintik-rintik tadi yang adalah air matanya 'matamu').

Tapi sekali lagi, bahwa sajak ini, karena pilihan kata 'kelindan' itu, mengijinkan ada interpretasi yg seksual tadi (dan benang yg masuk ke lubang jarum tadi juga mengingatkan saya bahwa banyak barang-barang tajam (caution: menyakitkan!) di puisi ini: ilalang, rumput, gerimis dan hujan yg seperti jarum. bukan berarti seks yg dilakukan si penyair dan pacarnya pasti sado-masochist, tapi menebar barang-barang tajam di puisi ini bisa saya rasakan waktu membacanya, membuat saya jadi merasa seperti takut ketusuk, dan dalam puisi yg bisa dirasakan pembaca kadang-kadang bisa lebih penting daripada yg bisa dimengertinya) selain interpretasi standar yg hanya melibatkan cinta suci non-karnal, itu sangat mengasyikkan buat saya, pembacanya.

Kalau saya bilang kemungkinan itu lebih mengasyikkan daripada jawaban yg pasti (mana interpretasi yang benar?), yang tidak disediakan oleh puisi ini, itu akan jadi sebuah klise sendiri, mungkin lebih baik digambarkan begini: karena puisi ini hanya memberi kemungkinan, seperti memberi rumus, sebenarnya kita bebas mempermainkan rumus itu sampai sejauh mana, tapi kita tetap punya puisi itu (ie, pertanyaan yg harus kita pecahkan dengan rumus itu (atau sebenarnya malah masih ada lagi rumus lain yg juga bisa dipakai!)), dan ketegangan antara keinginan kita untuk bermain-main dengan kemungkinan-kemungkinan tadi dan semacam rasa wajib atau berhutang (karena kita sudah diberi sesuatu yang begitu asyik) untuk mengerti puisi itu seperti yg ditulis oleh penulisnya, itulah yg mengasyikkan.

Dan tenang, 'rekata' ternyata bukan = rekat + kata. rekata adalah kata arkaik lagi (yg membuat semakin mungkin penyair ini memang memilih kata-kata-nya dengan sengaja dan hati-hati, atau dia anak indie yg bukan hanya pakaiannya saja yang vintage!) yang artinya 'kala (bintang atau rasi)'. Sekarang dia telentang menatap scorpio (walaupun ingat, semua ini adalah harapan si narator, dia 'ingin', 'kan', tapi mungkin juga keinginannya, fantasinya, begitu kuat sehingga dia sudah tidak bisa membedakannya dengan kenyataan (sounds like he's in denial)), langit mulai cerah, dia menyilang tangan di belakang kepala dan dalam sesuatu yang terasa seperti sebuah ketabahan yang mengasyikkan menunggu bintang-bintang yang membentuk konstelasi itu menghujani(dada?)nya dan menggambar tato berbentuk kalajengking di situ.

Semua ini adalah usaha untuk memahami puisi ini, yang menyediakan cukup banyak teka-teki sehingga usaha ini jadi cukup asyik dan mengasyikkan (apa bedanya?) tapi kalau misalnya saya dipaksa untuk bilang apakah saya suka atau tidak suka pada puisi ini saya masih ragu-ragu juga. Seperti semoga sudah jelas, maksud, arti, puisi ini cukup menarik dan dikatakan dengan cukup jernih, tapi tentu puisi bukan cuma masalah maksud dan arti.

Puisi juga soal bunyi (antara banyak lagi yang lain), dan sebenarnya bunyi puisi ini juga enak, tidak ada yang janggal. Memenggalnya jadi dua paragraf yg pertama menggambarkan aksi si narator dan yang kedua yang lebih singkat menggambarkan maksud aksi di atas juga logis, selalu ada caesura di antara aksi dan maksud bukan? Puisi ini jadi semacam sonnet mini. selain itu, ironi yang diciptakan antara nadanya yang rapi dan merdu seperti lullaby kepada diri sendiri, dan kegelisahan dan kecemasan yang disembunyikannya, membuat kegelisahan dan kecemasan itu makin menusuk. (Pertimbangkan juga kemungkinan satu ironi lagi, bahwa kalau lagu singkat ini adalah sebuah lullaby, ia lullaby yang ingin mengantarkan si narator bukan untuk tidur tapi untuk terjaga, supaya bisa 'telentang menatap rekata', sampai kapan?, mungkin dia harus insomnia selamanya!)

Tapi juga dalam hal bunyi inilah puisi ini punya masalah. Seperti sudah saya bilang di awal, saya sudah bosan dengan kata-kata ilalang, matamu, rumput, bintang, hujan, matamu lagi (sampai 3x termasuk judul), ilalang lagi (3x juga). Seperti sudah saya jelaskan juga, ternyata pilihan kata-kata dalam puisi ini memang ada alasannya, dan kuat, jadi mungkin memang puisi ini harus berbunyi seperti sekarang. Tapi saya juga jadi berandai-andai, karena fantasi penyair ini sebenarnya cukup kuat, mata itu benar-benar jadi seperti ilalang, apa jadinya kalau dia mencoba bakat berfantasinya itu pada skenario lain, pada sebuah puisi berjudul 'di cuping hidungmu yang london' misalnya? Jangan anggap ini sebagai sebuah saran 'seharusnya', anggaplah sekedar pertanyaan saya saja, sebuah kemungkinan, karena saya ingin tahu.

'Benar-benar jadi SEPERTI ilalang.' Kenapa saya bilang SEPERTI, bukan 'jadi ilalang' langsung saja? Karena kelihatannya itu yg dibilang penyairnya. sepanjang puisi ini, sejak judul, mata ini adalah mata yang (seperti) ilalang. Paling tidak, dua hal ini adalah hal yang setara dan ada pada waktu yang bersamaan, matamu adalah ilalang dan ilalang adalah matamu, tapi dua hal itu tetap dua hal yg berbeda. Sebuah perumpamaan, simile if you will. Membandingkan dua hal yg tak sama. melupakan sejenak bahwa mata dan ilalang adalah dua hal yg klise, dan perbandingan di antaranya pun juga, mata dan ilalang adalah dua hal yg cukup (tidak lagi sangat karena cukup sering dibandingkan!) berbeda, dan karena itu banyak hal yg menarik akan muncul (dan sudah) dari pembandingan itu. Tapi sekarang coba bandingkan (ha!) apa yg terjadi dengan 'matamu' di puisi ini dengan apa yg terjadi dengan 'mata' di puisi Saut Situmorang di bawah ini:

mata mawar

sepasang mawar merah mekar di matamu
membakar malam yang sunyi di hatiku

sepasang mawar merah mekar di matamu
malam yang sunyi jadi panas di hatiku

sepasang matamu jadi danau tak berombak
menyimpan duri tajam yang tak nampak

malam yang sunyi di hatiku
malam yang panas di hatiku
berdarah tergores duri matamu

sepasang mawar merah mekar di mataMu
durinya jadi bulan mati di hatiku

(Saut Situmorang, Saut Kecil Bicara Dengan Tuhan, Bentang Budaya, 2003, hlm. 7)

Di sini, mawar MEKAR di matamu, matamu JADI danau tak berombak, dan karena di mata itu sekarang tumbuh mawar (yang belum sempat dipotongi duri-duri-nya, dan duri-duri ini, ingat, 'tak nampak' karena disembunyikan oleh 'danau tak berombak' yg TADINYA 'sepasang matamu' tadi), malam di hati si penyair 'berdarah tergores duri matamu'. Blablabla. Poin saya adalah, di sini mata dan sepasang mawar dan danau tak berombak (no prize for guessing what this looks like/mean/is a metaphor of!) dan duri-duri itu, berhenti menjadi dua, tiga, empat hal yang berbeda dan MENJADI satu. seperti bisa dilihat sekarang di judulnya 'mata mawar'. Bukan (lagi) mata yang mawar atau mata seperti mawar.

'Matamu' sekarang tak ada lagi, yang ada hanya 'mata mawar' ini. Tidak ada perumpamaan, yang ada adalah metamorfosis dari sebuah mata menjadi mata mawar. Kenapa saya pikir ini lebih kuat (kalau belum jelas memang ini yg saya pikirkan) daripada hanya membandingkan mata dengan setangkai mawar? Banyak hal sebenarnya, misalnya waktu jadi bergerak. Saya jadi bisa merasakan mawar mekar di mata itu, seperti dalam fast-motion nature documentary di discovery channel, dari tidak ada menjadi ada. Kemudian danau muncul di sana, dan di bawah permukaannya tumbuh duri-duri. Semua ini seperti bergerak, dalam waktu. Dan waktu tidak bisa di-rewind. Di akhir puisi ini, waktu si penyair bilang duri mata mawar itu jadi bulan mati di hatiku, suasana jadi begitu menekan, karena mungkin selamanya akan begitu terus, kalau tidak malah jadi tambah buruk.

Dan ini: karena sebuah mawar merah benar-benar telah mekar di mata itu, durinya juga jadi terasa telah benar-benar jadi bulan mati (pastinya bulan sabit karena duri bentuknya lebih mirip itu daripada bulan purnama, jadi semakin menusuk bok!) yang sekarang benar-benar menusuk-nusuk hatinya. Sementara di 'di matamu yang ilalang', fantasi kuat tentang padang ilalang yang gerimis, angin yang menyanyi, rumput yang tumbuh di dada yang telentang menanti hujan bintang itu, seperti berakhir dengan sebuah anti-klimaks: 'di matamu yang ilalang.' Oh, ini tadi bukan benar-benar padang ilalang toh, hanya matamu.

Tentu sebenarnya si penyair ini telah benar-benar melihat padang ilalang itu di mata siapapun-mu itu. Sebenarnya semuanya ini bukanlah fantasinya, melainkan kenyataannya. Kenapa malu mengakuinya?

*mimpi dalam demam
Frans Nadjira

Seorang perempuan
berbaju hitam
menebar jala
di atas rerumputan

Lalu turun gerimis
Dari atas bukit-bukit
serombongan anak-anak
bernyanyi

Kami telah menadah angin
mengumpulkannya dalam keranjang
Kami telah memetik matahari
memasukkannya dalam keranjang
bercampur bunga-bunga.

(Frans Nadjira, Singgalang, tahun 19 nomor 3553, Senin 22 Desember 1986, hlm. 6 kolom 1.)

* pernah dimuat di kemudian.com
Blogged with the Flock Browser

Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha ti.*

Hati oleh ghe

duh.

hatimu berserakan di lantai kamarku

sebentar. kuambil pengki dan sapu



Saya tertawa membaca ini. Sebentar, jangan tertawa dulu. Tertawa barang langka sekarang dalam sastra Indonesia, paling tidak (meneruskan rant saya dua di sesi satu kemarin) yang diakui oleh koran-koran Minggu. Dan orang sebenarnya rindu ketawa, lihat ini. Jadi, satu hal penting dulu, hanya karena saya tertawa, bukan berarti sajak kecil ini lebih 'ringan' apalagi lebih tidak bermutu daripada sajak yang membuat saya mengerutkan dahi atau mengelus-elus dada (ini juga mungkin terjadi gara-gara saya bingung dan putus asa nggak ngerti artinya, belum tentu karena sajaknya menyedihkan dan membuat trenyuh).

Saya tertawa karena apa? Pertama-tama, tidak jelas. Tapi menurut saya, alasan tertawa memang susah dijelaskan. Tidak semua orang akan menertawakan hal yang sama. Dan hal yang sama-sama ditertawakan mungkin sekali tidak ditertawakan karena alasan yang sama. Ada alasannya kenapa Freud menjuduli kitab sucinya tentang humor 'Jokes and their Relation to the Unconscious', karena kelihatannya memang itulah yang diserang oleh sebuah lelucon, alam bawah sadar kita, sebelum sadar kenapa, kita sudah tertawa duluan.

Tapi marilah kita bermain Oprah sebentar, jadi psikoanalis amatiran.

Mungkin yang pertama membuat saya ketawa adalah anti-klimaks sajak ini, 'sebentar. kuambil pengki dan sapu'. si pacar (eks pacar!) sadar hati (eks)pacarnya berserakan di lantai kamar (pastinya dia sendiri yang menghancurkannya!) tapi reaksinya bukan, misalnya, 'nih, bunga sekeranjang!', dia hanya akan menyapu serpihan-serpihan hati itu, menggiringnya ke pengki, dan kemudian saya bayangkan, ke mana lagi kalau bukan membuangnya ke tempat sampah! dan perhatikan titik setelah sebentar itu. bukan 'sebentar, (koma) ...' seberapakah sebentar yang diikuti titik itu? si (eks)pacar berdiri (atau mungkin tergeletak pingsan di lantai) tanpa hati, dan masih juga dia disuruh menunggu! mana emergency response-nya!

Tapi mungkin sebelum itu saya sudah ketawa karena 'duh.' di baris pertama. ini (lagi-lagi diikuti titik yang nyantai, bukan koma yang tergesa apalagi tanda pentung yang panik) duh khawatir atau duh kebosanan? duuuh, lagi deh, gimana siiih!

Kesinisan penyair, yang dikatakan dengan begitu dead pan, buat saya sangat menghibur. Buat saya, kesinisan adalah emosi yang sama real-nya dengan, misalnya, penyesalan. Dan penyesalan sudah diberikan terlalu banyak tempat di koran Minggu (tetep).

Tapi ini masalah yang buat saya memang besar. Sejak puisi mbeling di tahun '70-an (cari antologi 'Penyair Muda Di Depan Forum' di toko buku Jose Rizal di TIM), baru 'Antologi Bunga Matahari' (2005) yang dengan sadar memberi tempat utk emosi-emosi yang tidak melulu muram. (Joko Pinurbo bisa lucu juga, tapi pada dasarnya dia seorang romantis yang paling suka kalau bisa menguras air mata pembacanya.)

Mungkin selain tertawa karena sajak ini lucu, saya juga tertawa lega karena sajak ini tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam romantisme, apalagi sentimentalisme, yang palsu.

Tidak tahu apakah ini sengaja atau tidak, mungkin tidak penting sengaja atau tidak, saya juga suka dengan bentuk visual sajak ini. Pendek, cuma tiga baris, yg membuat saya berpikir tentang haiku, atau misalnya ini:

Malam Lebaran

Bulan

Di atas kuburan

(Sitor Situmorang)

Yang juga mungkin membuat saya secara tidak sadar menanti sesuatu yang penuh kekhidmatan seperti itu. Penantian yang langsung hancur berserakan setelah membaca 'duh.' tadi.

Perrmainan bentuk seperti ini, mengkhianati bentuk, tentu bisa menjadi salah satu senjata penyair yang ampuh. Seperti Sitor sendiri misalnya, dengan (nyaris)pantun-nya 'Si Anak Hilang' yang pulang ke bentuk tradisional hanya untuk memberi tahu bahwa si anak hilang ini tidak mungkin pulang!

Dan lagi2, parodi bentuk seperti ini juga jarang sekali ditemui sekarang di koran-koran Minggu. Yang kebanyakan memuat verse yang sok libre. Satu lagi centang dengan bolpen hijau untuk puisi 'Hati' ini.

Satu lagi yang membuat saya penasaran tentang ini, dan yang juga lama tidak disinggung oleh sastra Indonesia, terutama kritik(us)2nya adalah fungsi retorik puisi ini. Dia diucapkan untuk apa? Apakah misalnya, untuk membuat (eks)pacar ini jadi lebih kesal sehingga dia akhirnya meninggalkan kamar terus si penyair bisa tenang hore2 main Wii? Kita suka lupa puisi punya maksud pragmatis seperti itu juga. Dan seandainya itu benar, betapa efektifnya puisi ini! (Eks)pacar mana yang tidak akan semakin muak dengan penyair tanpa hati seperti ini!

Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
hahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha

ha.

* pernah dimuat di kemudian.com
Blogged with the Flock Browser

depressed diaspora of the world unite!*


In the Cold November Rain
The Bus Driver’s Wife
Five Minutes
Oleh
FrenZy

Not only are these stories written in English, they’re set outside Indonesia, the first in London, then Brisbane, and Melbourne.

Gets rid of one problem: something that sometimes Laksmi Pamuntjak (say) struggles with in her English poems/short-stories. Like I’ve written and pointed out so many times here. I’m sick of it myself, if you write in English about Hotel Grand Menteng, would you say it’s a ‘love-motel’, as Laksmi does, taking a run-o-the mill Ameringlish idiom to describe something Indonesian, or use a term like ‘check-in place’ since that’s what we Indonesians call it? Not idiomatic English perhaps, but isn’t it more real? What is real? What use is real in fiction?

But I’m not gonna talk about language, it’s boring. Sure there are some awkward expressions, like ‘resisting my desperation to choke out loud’ (Cold November Rain) or ‘this whole ticket buying scheme had finally been mastered’ (The Bus Driver’s Wife), but you’d get that even in something written by a budding writer from Toorak, nothing that a good editor can’t fix. (If indeed it needs be fixed.)

The first story is actually nowhere near as horrendous as the title suggests—the infamous Guns N’ Roses operock video, though like the song, the story is also about unrequited love. At one page nowhere near as epic of course.

A woman sitting in a room in ‘depressing London weather in November, the unfriendly humid air poisoning my oily skin’ (depressing London weather is a bit of a tautology, but the real problem/the problem of the real in this sentence is ‘the humid air’, how could it be humid in London, in early winter? Is it the cheap Tesco heater that makes your hands and feet all clammy? Problem of verisimilitude. But why is this problematic? Or is it? I guess if this were a sci-fi short set in post-apocalyptic global-scorched London then I wouldn’t have batted an eyelid on ‘humid London November’, but as we shall see, this story is basically a realist vignette, and in a slice-of-life I guess it’s reasonable that we expect the life to be as we know it.), ‘wrapped in a dirty bath towel, chain smoking’, staring at ‘a bottle of painkillers’ on (probably) top of the sink.

So the woman is depressed. But she was ‘too wound up to care.’ Then it turns out that she’s too wound up because she cares too much. For ‘the motionless body next to me. A man’s body.’ They’d fucked two hours ago after he turned up on her doorstep and he: ‘I need you’, and she: ‘You need a place to stay.’ Funny. Then she: ‘I love you,’ then he: ‘Thank you.’ A bit more standard dark humour, but believable.

Then the answers for all the dark humour, the painkillers, the depressing London scene: ‘Will your wife come looking for you? Will you say goodbye and never come back?’ Like Axl said, nothing lasts forever / in the cold November rain, but perhaps, some things do, like a sob story set in grey London.

The second story, perhaps the most interesting, begins with the simple, short, sentence ‘The bus driver is my best friend.’ Which somehow sounds kinda depressing. Bus driver? What about a stripper? And it gets worse, ‘He is an old man nearing his sixties, … a Russian-Australian, … his Australian accent is very thick since he spends most of his life in Brisbane, … with a nametag that says Steve.’ Perhaps the most depressing thing is that nametag, what’s wrong with Stefanovich, why would you try so hard to fit in to Brisbane, land of tight stubbies and Bir Bintang singlets, why would you move to Brisbane at all?

They’d become friends because when the narrator, a girl, moved to Australia, she was ‘dominated by fear and loneliness’ (in Brisbane, wouldn’t blame ya girl), and Steve likes to chat about his sad bus-driving life, bad pay, unhappy wife, the usual sob story. But the narrator thought Steve was ‘very different. … unlike the other grumpy bus drivers who shout at foreigners.’ Aha! Maybe because Steve was a foreigner himself! A depressed diaspora just like the narrator!

Misery loves company especially when it’s a young probably pretty Asian international student. Or a granddad who happily listens to a pretty Asian international student’s stories of her ‘need to get away from a very bad breakup’ and her subsequent loneliness (girl on the rebound!). Then one night Steve told rebounding girl he was gonna quit his job, wife was leaving him because he was, yes, a total loser, and he might just as well pack his bags and move back to Russia.

Nyet! thought rebound girl.

‘I’m just an old man, what do I have except a rusty bag and a passport?’
‘You have love.’
‘No, dear. We have memories.’

And as if the thought of soldiering on in life in snowy Ukraine with a bag full of memories of hot summer afternoons in Brisbane verandahs was way too depressing, this story ends with Steve’s wife getting on the bus at the last stop as narrator girl gets off. Reconciliation.

‘What am I to know all about love? I do not even have love. My ex boyfriend is an emotional abuser and I have given up on love a long time ago.’ (Narrator girl’s monologue, all in her head.) But girl, from the ending you’ve given us, looks like you really haven’t.

The third story, ‘Five Minutes’, about a man who, accompanied by a kid, observes and bitches about people in a park ‘in the heart of Melbourne’, and the kid turns out to be the man’s imaginary friend and the man turns out to be a geriatric granddad suffering either from Alzheimer or multiple sclerosis that has left him ‘unable to speak and move, all I can do is feel,’ (some people have all the luck) I thought must’ve been written by the same author who wrote ‘In the Cold November Rain’ since both titles were accompanied with the date of writing ‘January 2007.’ Not only that, in ‘Five Minutes’ the author wrote that ‘people scurry through … to get to the tube station.’ But the tube is in London, in Melbourne it’s the train. (Or the tram if you wanna be all romantic and olde-worlde.)

That problem of verisimilitude again. Perhaps the author mixed up his/her memories of London and Melbourne and the two cities merge into one. (After all, Melbourne is the one city in Australia with European pretensions, though it’s Paris they aim for, what with the parks, the sidewalk cafés et al., and it rains there the whole time too.) But I imagine a Melburnian would object to see his ordinary train station be written as ‘the tube’, and this brings me back to Laksmi Pamuntjak: so why shouldn’t I complain that she calls Hotel Grand Menteng (say) with the pissweak appellation ‘love motel’? We’ve already got ‘check-in place’, why not use it? What is wrong with the more real?

The imaginary kid disappears and the story ends. Which makes me think: these are all depressing stories, but I like them much more than the sugar-coated inspirational stories millions of people bought in Andrea Hirata’s Edensor. (About his student days in Paris dan sekitarnya.)

* pernah dimuat di kemudian.com
Blogged with the Flock Browser

mangga muda problem lama*

Mangga muda oleh ghe

Sebelum mulai bicara tentang puisi ‘Mangga muda’ (ya, m yang kedua memang kecil, penulisnya Francophile ya?) ini saya ingin ngomong sebentar tentang proses review buat kemudian.com ini. Mungkin semua orang sudah tahu juga, saya diberi pilihan beberapa tulisan untuk direview tanpa pernah tahu nama atau siapa penulisnya. Alasannya jelas tentu—paling tidak ini asumsi saya—untuk mencegah kongkalikong, mencegah reviewer seperti saya menulis review penuh gula-gula untuk penulis yang manis dan kebetulan adik pacar saya. Tapi kemudian saya pikir, ini kan bukan lomba? Lagian, saya justru merasa perlu tahu latar belakang seorang penulis, bukan hanya namanya saja, kalau bisa saya ingin tahu buku apa saja yang dia baca waktu tumbuh dewasa, di kota mana dia dibesarkan, (dalam konteks Indonesia bhinneka tunggal ika ini) suku dia apa. dia suka mendengarkan musik apa, heroes atau csi, etc. etc.

Seperti di review saya yang kemarin tentang tiga cerpen berbahasa Inggris yang ternyata ditulis oleh satu orang itu (saya cuma berani menebak waktu itu dua dari tiga cerita itu ditulis oleh orang yang sama) saya ingin juga tahu apakah dia benar-benar pernah tinggal di London atau dia hanya mengkhayalkannya saja dengan bahan-bahan yang pastinya banyak dia dapatkan waktu dia tinggal di Brisbane. Atau malah sebaliknya? Kelihatannya sih tidak. Atau dia mengkhayal tentang semua tempat itu dan selama ini dia tinggal di Tebet (ala Ratih Kumala dan Tabula Rasa-nya)? Buat saya hal-hal seperti ini bukan hanya menarik tapi juga penting, karena misalnya saja waktu itu saya sempat bertanya kok dia bisa-bisanya bilang London humid di bulan November? Nah, kalau misalnya dia hanya pernah tinggal di Australia dan hanya pernah transit di Heathrow tiga jam sebelum terus ke Stockholm saya jadi bisa tahu pastinya itu dia lakukan karena dia mencampurkan waktu musim panas Australia yang berada di belahan bumi selatan dengan London di bumi utara. Saya jadi tahu dia cuma perlu merevisi pelajaran geografi SMU-nya saja. Tapi kalau misalnya ternyata dia pernah belajar seni patung di St. Martins College setelah capek belajar Masters ekonomi di Brisbane saya jadi bisa bilang mungkin dia lagi mencampuradukkan memori historisnya. Dan kalau dia ternyata masih sekolah di SMU 26, yah, spekulasi sendiri saja kira-kira kesimpulan macam apa yang bisa kita tarik tentang cerita-cerita itu.

Menurut saya ini masalah yang penting, karena di Indonesia kelihatannya kritikus sastra suka malas atau tidak bersedia menyambungkan tulisan dengan dunia penulisnya. Semacam hangover dari New Criticism saya yakin mereka juga tidak pernah benar-benar mengerti juga. Seperti misalnya kata pengantar Nirwan Dewanto di buku ‘Ripin: Cerpen Kompas PIlihan 2005-2006’. Di situ dia sama sekali tidak pernah benar-benar membahas di cerita ‘Ripin’ karya Ugoran Prasad yang ia anggap cerita terbaik di Kompas selama periode 2005-2006 itu siapa itu si Ripin, apa yang terjadi dengannya (bapaknya mati ditembak Petrus—ini twist-nya haha sori ya spoiler haters), kenapa Ugoran memilih masalah Petrus ini untuk cerpennya, apa masih menarik menulis tentang Petrus, etc. etc. Hal-hal yang menurut saya lebih menarik tentang ini daripada misalnya, ‘[dalam Ripin] kita sampai pada paradoks yang menggetarkan: antara kokohnya alur dengan hasrat para tokoh untuk keluar dari tindasan, antara keasyikan sudut pandang dengan kekasaran latar cerita, antara mustahaknya tutup cerita dengan ketidakpastian nasib Ripin si tokoh utama.’ (Nirwan Dewanto dalam ‘Ripin etc.’ hlm. xxvi.) Tindasan macam apa? Dari siapa? Kenapa ada di situ? Kekasaran macam apa? Siapa? Kenapa ada di situ? Apakah penting, menarik, membosankan, biasa-biasa saja semua itu ada di situ? Dan, apa arti mustahak? ;)

Buat saya kritik macam di atas, yang kelihatannya menganggap hanya arsitektur sebuah tulisan saja yang penting (semacam versi Taliban New Criticism), sama saja dengan bilang foie gras itu mak nyusss tapi tak pernah bilang (karena memang tak tahu karena memang tak mau tahu!) makanan itu terbuat dari apa.

Mungkin semua ini kedengaran terlalu panjang tapi pun sudah langsung relevan begitu kita membaca judul sajak kita kali ini ini: ‘Mangga muda.’ Karena saya orang Indonesia atau paling tidak orang Jawa, membaca judul ini langsung terbayang di kepala saya berbagai macam bayangan tentang mangga muda: dicocol campuran garam dan cabe enak, makanan perempuan lagi ngidam, tergantung musim ada atau tidaknya di pasar (paling tidak dulu sebelum globalisasi mangga karbitan melanda Total). Dan begitu membaca baris pertama sajak ini, nah benar kan saya. Sekarang bayangkan misalnya saya seorang wannabe Indonesianis asal Alaska yang belum dapat-dapat juga beasiswa pertukaran pelajar ke UGM tapi saya nekat menulis review tentang sajak ini dan karena saya memang tidak tahu dan malas bertanya pada supervisor saya, saya tidak pernah mempertimbangkan semua imej kultural spesifik tentang mangga muda ini dan hanya sibuk menyatakan betapa pengulangan dua kata mangga muda ini menghipnotis seperti mantra (ini memang benar, tapi), apakah patut kritik saya dibilang kritik yang lengkap? Apakah patut tulisan saya itu disebut kritik karena saya sebenarnya belum memeriksa semua kemungkinan pembacaan sajak ini? Apakah patut saya disebut seorang kritikus?

Sudah jelas kalau tulisan seorang kritikus akan dipengaruhi oleh latar belakangnya, apakah tidak lucu kalau kemudian kritikus itu sok-sok menganggap tulisan yang dikiritiknya tidak ada hubungannya dengan latar belakang penulisnya? Penulis sudah mati? Ya, kau yang membunuhnya Kritikus Sialan!

Kembali ke sajak kita (sebelum saya membunuhnya juga dengan melupakannya sama sekali), sajak ini adalah sajak yang naratif. Banyak sajak tentu yang sebenarnya memang prosa yang ditulis dalam baris-baris sehingga kelihatannya seperti puisi. Baca banyak sajak Billy Collins misalnya, atau Hasan Aspahani. Memang tantangan membuat puisi mungkin itu (paling tidak puisi lirik), bagaimana menggubah lirisisme yang kita rasakan, semacam aku melihat matamu dan di matamu ada aku, dalam kata-kata yang tidak sekedar menceritakan itulah yang terjadi tapi dalam puisi (apa pun itu kek) yang bisa membangkitkan rasa itu lagi untuk pembacanya setiap kali ia membacanya. Jadi misalnya, kalau saya tulis saja, ‘di matamu ada aku’, pembaca akan membacanya, mungkin bisa mengerti apa yang saya maksud, tapi (selain berpikir duh menye-klise banget sih) setelah itu ya sudah, kalimat (tak layak dibilang baris) ini bisa dibuang saja, sudah selesai tugasnya, dia hanya menceritakan apa yang terjadi, suatu saat, mungkin di tepi sebuah danau dengan kabut yang mengambang di atas permukaannya yang (tentu saja) tenang, ‘di matamu ada aku.’

Literature is news that STAYS news (Ezra Pound, ‘ABC of Reading’, hlm. 29). Saya suka nggak yakin juga macam apa news yang akan STAY news itu. Tapi biasanya sih kita tahu begitu kita melihatnya. Misalnya saja (ini saya pilih random dari rak buku saya), 'both of us hapless outcasts at the farther end of the sky; meeting like this, why must we be old friends to understand one another?' (Po Chü-i, ‘Song of the Lute’ dalam Burton Watson (penerjemah), ‘The Columbia Book of Chinese Poetry’, hlm. 252.) Bisa saja hal itu benar-benar terjadi, two hapless outcasts meeting at the farther end of the sky and feeling like they’re best friends already, tapi satu hal saja, setelah membaca ini anda ingin membacanya lagi bukan, dan lagi, dan lagi. Tanpa harus menganalisa bagaimana Po Chü-i melakukannya, dua baris itu tidak seperti kalimat gubahan saya di atas atau sekolom berita di Kompas, kita tidak akan merasa cukup hanya mengingat apa yang diberitakan oleh baris-baris itu, kita akan ingin membacanya dan lagi dan lagi, seakan-akan kata-katanya jadi lebih penting daripada apa yang diberitakannya. Ya, seakan-akan dua baris itu adalah news that STAYS news.

Nah, sajak ‘Mangga muda’ ini di banyak tempat terasa seperti cerita yang bisa merasakan ada puisi di balik ceritanya dan ingin melompat ke situ dan hup! bah! ternyata perhitungannya kurang tepat, lompatannya kurang jauh dan terjerembablah dia kembali ke narasi cerpen korannya. Tapi di beberapa tempat, sajak ini juga terasa seperti puisi yang tertatih-tatih memaksa untuk bercerita!

Sajak ini banyak menggunakan jurus pengulangan, seperti ‘kuketuk pintunya / kuketuk pintunya’ atau ‘kuketuk pintunya / kuketuk pintunya / kuketuk pintunya’ dan ini kadang-kadang terasa seperti usaha penulis untuk memuisikan cerita ‘Mangga muda’-nya tapi kadang-kadang juga terasa sepertinya mungkin justru ini yang lebih ingin dilakukan si penulis, mengulang-ulang kata-katanya begitu saja, terus saja, seperti mantra. Dan di sinilah, misalnya, pentingnya latar belakang penulis tadi. Mungkin, karena penulis ini (kelihatannya) memang orang Indonesia, salah satu bentuk puisi yang paling familiar buatnya, terdengar paling alami di telinganya, mungkin tanpa dia sadari, adalah mantra. Atau, dan ini ada juga hubungannya dengan si penulis adalah orang Indonesia, mungkin dia banyak baca balada-balada Rendra.

Cerita sajak ini adalah seorang suami yang dengan kelihatannya agak berat hati dan karena itu malas-malasan mencarikan mangga muda untuk istrinya (mungkin karena dia baru ngidam ini jam ‘setengah dua belas malam’). Tapi rasanya si suami berangkat bukan untuk istrinya karena ‘Menatapnya aku berpikir / ‘ah … itu yang meminta anakku sendiri’’. Seperti Hercules dengan satu tugas saja dia mengalami berbagai rintangan dan dia bukan Hercules jadi semua rintangan itu tidak bisa dia lalui juga sampai akhirnya dia sampai di ‘… pasar kampung kami / jam dua belas malam …’ tapi dasar bukan Hercules dia takut masuk pasar yang dia dengar penuh preman dan langsung balik kanan tapi baru ‘… berjalan dua langkah …’ dia sudah dihadang oleh ‘… tiga orang pemuda …’ dan ‘… lelaki / baju hitam-hitam dan wajah tanpa ekspresi’ ‘di belakang mereka …’

Si suami ditikam mati oleh ketiga preman dan satu laki-laki misterius ini. Tapi dari tadinya cerita yang gampang sekali diikuti, tiba-tiba di sini sajak ini menjadi agak misterius, atau mungkin, paling tidak jadi lebih susah diikuti, saya tidak tahu. Lebih baik saya kutip hampir semua bagian akhir ini:

‘aku jatuh rebah kulihat banyak sekali darah
tiga preman itu kabur membawa dompetku yang isinya tak seberapa
tapi lelaki itu tinggal
dia jalan mendekatiku dengan wajah tanpa ekspresi diulurkannya tangannya
pusarku berkedut menuntut tanganku menyambut tangannya
rasanya seperti berkenalan dan kutahu dia bukan Tuhan
dia bukan Tuhan
tapi tangannya sejuk dan aku seperti melayang’

Apakah tiga preman ini = the three wise men, tiga magi dalam cerita Injil Matius tapi kali ini yang benar-benar telah diperalat Herod = si lelaki baju hitam-hitam bukan Tuhan itu untuk menemukan dan membinasakan Kristus = si suami? Apa penulis sajak ini seorang pastur? Atau murid seminari Gonzaga? Untuk sementara ini, karena saya memang tidak tahu siapa penulis ini dan dunianya seperti apa, saya tidak tahu. Tapi bagian terakhir ini menurut saya, dengan nada setengah bercanda ringannya, adalah sebuah meditasi, sebuah puisi, tentang Tuhan dan kematian yang cukup indah.

Kalau lelaki yang tinggal itu bukan Tuhan terus siapa? The Grim Reaper karena bajunya hitam-hitam? Tapi dia mengajak salaman (jadi tangannya tidak sibuk memegang sabit raksasa) dan ‘… menyambut tangannya / rasanya seperti berkenalan … tangannya sejuk …’ Malaikat kematian biasanya tidak seramah ini.

Atau sebenarnya dia memang Tuhan, yang membiarkankan si suami ‘melayang’, bebas dari beban mencarikan mangga muda buat istrinya, hanya si suami terlalu merasa bersalah dengan ketidakbertanggungjawabannya ini (‘… tangannya sejuk dan aku seperti melayang’ tidak kedengaran seperti dia terlalu keberatan mati ditusuk preman-preman pasar itu) sehingga tidak mau mengakui bahwa sekalipun mungkin si lelaki baju hitam-hitam tanpa ekspresi ini adalah Setan dia adalah Tuhan penyelamat baginya?

*pernah dimuat di kemudian.com
Blogged with the Flock Browser

Sunday, May 06, 2007

Binhad Nurrohmat Has Got No Balls, Or Brain!

Saya geli sekaligus ngeri membaca Binhad Nurrohmat dalam "Menganiaya Puisi …" (Kompas, 21 Mei 2006) begitu marah pada "kritik gadungan" yang "menyatakan kesimpulan tanpa data yang komprehensif, tanpa fakta yang tepat, dan tanpa analisa maupun pembuktian yang meyakinkan," (ini di alinea 2) tapi sampai alinea 6 waktu dia mengulangi lagi pidatonya, "Mari menilai dan mohon jangan menduga belaka secara subyektif, tanpa data yang komprehensif, tanpa fakta yang tepat, dan tanpa analisa serta pembuktian yang meyakinkan," dia sendiri pun belum juga menunjukkan sedikit pun "data yang komprehensif", maupun "fakta yang tepat", apalagi "analisa serta pembuktian yang meyakinkan" tadi. Dan sampai tulisan ini berakhir 3 alinea kemudian semua hal yang dikoarkan Binhad harus muncul dari mulut seorang kritik itu tetap saja tidak muncul dari mulutnya sendiri.

Salah satu "kritik gadungan" ini adalah F Rahardi yang menurut Binhad "menuduh puisi penyair generasi terkini kalah oleh puisi penyair generasi terdahulu, puisi penyair Jakarta tertinggal jauh dari puisi penyair Bali dan Lampung, dan puisi penyair generasi terkini kalah mutu dengan cerpen dan novel terkini."

Menurut saya kesimpulan Binhad tentang tuduhan F Rahardi itu agak melenceng. Tuduhan F Rahardi pada puisi generasi terkini sebenarnya jauh lebih kejam. Dalam tulisannya ("Umbu dan Puisi Indonesia Modern", Kompas, 14 Mei—seminggu sebelum balasan Binhad) F Rahardi menyatakan, "… dalam sepuluh tahun terakhir ... tidak ada puisi bagus."

Sesungguhnya kalau Binhad ingin membuktikan bahwa tuduhan ini salah, gampang. Tunjukkan saja sebuah contoh "puisi bagus" dari sepuluh tahun terakhir ini! Satu puisi pun akan sekaligus menjadi "data yang komprehensif, fakta yang tepat, dan analisa serta pembuktian yang meyakinkan" yang didamba-dambakan Binhad dari tadi.

Tapi pembuktian yang diberikan Binhad justru argumen-argumen ad hominem yang sekedar menempelkan stiker-stiker mengerikan pada jidat komentator-komentator puisi Indonesia: "nostalgis", "provinsialistik", "suka mencomot kesimpulan dari gerundelan pribadi", "dangkal", "antik", "omong besar", "melantur", "ajaib", "berbunga-bunga", dan masih banyak lagi.

Sekalinya Binhad mengalihkan perhatian dari mencerca kritik gadungan dan mencoba memberi pembelaan untuk yang dikritik dia hanya menyatakan, "Hampir sepanjang dua dasawarsa ini, hampir semua koran edisi Minggu di negeri ini dan juga situs-situs puisi di internet menampilkan puisi-puisi para penyair generasi terkini yang jumlahnya tak tertandingi sepanjang sejarah puisi Indonesia modern." Jumlahnya! Begitu cepat Binhad lupa bahwa yang dikeluhkan F Rahardi, dan yang membuat Binhad sendiri begitu murka, adalah bahwa "tidak ada puisi bagus". Bukan bahwa tidak ada puisi.

Memang kemudian Binhad meneruskan bahwa mungkin masalahnya "puisi-puisi yang jumlahnya tak tertandingi sepanjang sejarah puisi Indonesia modern" tadi ("data"-mu "yang komprehensif" untuk ini mana, Binhad?) "belum semuanya dijamah, diendus, dan dirogoh secara representatif dan saksama oleh kritikus manapun". Tapi bukannya ini satu lagi kesempatan, pas sekali, untuk menunjukkan satu, satu saja ayo, "puisi bagus" tadi? Kalau tidak ada yang mau merogoh, ya rogoh saja sendiri!

Tapi tidak, Binhad sampai akhir tulisannya hanya memaparkan bagaimana kehidupan para penyair generasi terkini begitu berbeda dari penyair generasi sebelumnya (eg. "bisa 'berguru' melalui internet", tidak perlu "ngutil buku semacam Chairil Anwar"). Yang gampang ditebak mengarah ke permohonan klise supaya "kritik-kritik gadungan" tadi jangan menilai puisi-puisi penyair generasi terkini dengan nilai-nilai yang mereka pakai untuk menilai penyair-penyair generasi sebelumnya.

Tetap saja, menyatakan bahwa "zaman sudah berubah dan bergerak cepat" tidak sama dengan membuktikan bahwa zaman itu sudah menghasilkan puisi bagus. Binhad tetap tidak bisa melihat bahwa yang perlu dia lakukan hanyalah memberi satu contoh saja sebuah "puisi bagus"; itu cukup untuk mematahkan tuduhan F Rahardi.

Kenapa, misalnya, Binhad tidak menyebutkan saja sajaknya "Columbus" yang dimuat di halaman Sajak Sajak Kompas Minggu 30 April 2006, dan menantang F Rahardi untuk membuktikan bahwa puisi itu bukan "puisi bagus"? Atau membandingkannya sendiri dengan, misalnya, sajak F Rahardi "Burung Madu" yang dimuat di halaman yang sama seminggu kemudian? Menurut saya beberapa larik dalam "Columbus", eg. "Tak ada rindu di punggungmu yang kekar", "dan api tualang membakar alamat rumah", atau "mata jangkar capek merobek punggung udara", cukup memenuhi syarat-syarat "kepenyairan tulen" yang dituntut Binhad sendiri, yang "intim dengan suka-duka, manis-getir, serta bobrok-mulianya kenyataan zamannya luar dalam." Apa Binhad kurang percaya diri?

Tulisan Binhad ini, selain tidak bisa membuktikan salahnya tuduhan F Rahardi bahwa "sepuluh tahun terakhir ini tidak ada puisi bagus", justru secara tidak sadar membuktikan tuduhan (antara lain) Katrin Bandel dalam eseinya "Sastra Koran di Indonesia" bahwa "[i]nformasi yang jelas, apalagi argumentasi yang masuk akal, sangat jarang terdapat dalam esei-esei [koran] itu. Entah karena memang tak ada penulis yang mampu atau karena 'memukul' dan menjelekkan lawan dan memuji-muji kawan dianggap sudah cukup." (Sastra, Perempuan, Seks, Jalasutra, 2006, hlm. 49.) Dalam kasus tulisan Binhad ini, saya rasa Katrin bisa menghapus "Entah" dan mengganti "atau" dengan "dan".

Sayang, Binhad. Karena kalau anda berhenti "memukul dan menjelekkan" sebentar saja, mungkin anda akan punya waktu untuk menemukan ini:

Re: Kota [2]

ada kota penuh kaki
muda, mulus, dan liar

inilah kaki dari senja emas

(Edo Wallad, Antologi Bunga Matahari, Avatar Press, 2005, hlm. 146.)

Sentimentil mungkin. Tapi bagus. Dan ditulis sepuluh tahun terakhir ini (6 Januari 2003 menurut keterangan bukunya). Habis perkara.

Mikael Johani sekarang tidak lagi harus menghabiskan waktunya pura-pura bekerja sebagai penyunting di Jurnal Perempuan.

Monday, September 25, 2006

KEYAKINAN TIDAK PERLU BUKTI




"Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20: 29.)



Larutan Senja

Ratih Kumala

Gramedia Pustaka Utama 2006

Rp 30.000



Ada kecenderungan nihilistis dalam tulisan-tulisan Ratih Kumala. Tabula Rasanya diisi penuh karakter-karakter yang gagal hidupnya: drug addicts, dosen yang satu cintanya mati satunya lagi tak berbalas, lesbian yang wanita pujaannya (salah satu drug addicts tadi) mati OD, etc. Kecapan Budi Darma di belakang buku ini cukup akurat: "kalau perkembangan zaman menuntut kehidupan orang-orang modern menjadi kosong dan tidak bermakna, maka cinta kasih manusia modern pun menjadi kosong dan tidak bermakna."



[Kecenderungan nihilistis, sinisisme, ini, kalau dilihat dalam konteks sejarah sastra Indonesia, bisa juga merupakan reaksi Ratih terhadap ke"lugu"an (v. esei Intan Soewandi di Jurnal Perempuan edisi "Perempuan dalam Seni dan Sastra") dan "pretensi" (v. esei Katrin Bandel, "Vagina yang Haus Sperma: Heteronormatifitas dan Falosentrisme Ayu Utami", sudah dikumpulkan di bukunya Sastra, Perempuan, Seks) pengarang-pengarang (perempuan) lain di jamannya. Bandingkan dua penggalan dari Saman dan Tabula Rasa berikut ini: "... garis-garis cahaya memanasi birahi hingga tanak seperti nasi." (Saman, hal. 2), "... hatiku tidak lagi bergelora cintanya seperti nasi yang telah tanak." (Tabula Rasa, hal. 68.) Alusi. Sindiran. Parodi.]



Satu novel lagi, Genesis, dan 14 cerpen kemudian yang dikumpulkan dalam Larutan Senja, apakah Ratih masih senihilis ini?



Pertama kali membaca, kelihatannya, ya. Ini daftar karakter-karakter Larutan Senja urut berdasar susunan ceritanya: dukun bayi yang (hampir) dibakar hidup-hidup, pasien rumah sakit jiwa, pekerja proyek di hutan Kalimantan, pencipta "larutan senja" yang ciptaannya dibajak Tuhan, wanita yang ditinggalkan suami karena me-laser tahi lalat di punggungnya—klangenan suaminya, penggesek biola yang dituduh jadi anggota Lekra, hantu yang menghadiri upacara pengabenannya sendiri, penduduk Berlin Timur yang mati berusaha menyeberang ke Berlin Barat (saat Tembok Berlin masih berdiri tentu), "Wanita Berwajah Penyok", perempuan hamil tiga bulan yang bunuh diri di kos-annya yang sempit, Yesus (dan Maria si pencerita kisahnya), kakek-kakek yang ditembak mati Belanda karena radio gerilyanya, pengusaha peti mati yang tak laku-laku dan terpaksa mengobral mereka, dan seorang tattooist yang mengaku pernah melihat Muhammad dan buroqnya (dan tentu saja, tidak ada yang percaya). Semuanya orang-orang yang tersingkirkan, mereka yang dilumpuhkan oleh dunia sekitarnya atau mereka sendiri.



Di akhir Tabula Rasa, Raras (si lesbian tadi) berkata pada Violet (cintanya yang terlanjur dikremasi), "Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup." (Tabula Rasa, hal. 183) "Terbentuk." Bukan "membentuk". Manusia dalam Tabula Rasa tak punya daya cipta, terserah Tuhan mau mencoreti batu tulis-batu tulis kosong itu dengan apa, menghapus yang sudah dicoreti, atau menimpanya dengan garis-garis nasib baru sementara yang lama pun masih samar-samar terlihat di baliknya.



Arti hidup tokoh-tokoh dalam Tabula Rasa (kalaupun ada artinya) disusun satu-satu dari pengalaman mereka, dari apa yang mereka alami di dunia ini, yang kasat mata. Ini memang terdengar seperti aliran empiris, versi sebelum Kristus, Aristotelian, bukan versi Locke, misalnya, yang memberikan hak alami pada manusia untuk mengarang hidupnya sendiri.



Tabula Rasa berakhir dengan Raras memohon, "Temani aku, sebab sebenarnya aku takut sendiri." Ini konsekuensi logis dari epistemologi novel ini, tentu Raras akan, sudah seharusnya, begitu takut sendiri, karena tanpa orang lain bayangkan betapa sepi nanti jalan hidupnya, dan dengan begitu betapa sedikit makna yang bisa ia punguti sepanjang perjalanannya!



Nah, perbedaan pertama yang saya lihat antara Larutan Senja dan Tabula Rasa adalah bahwa karakter-karakter dalam 14 cerita pendek ini lebih berani daripada Raras & Co. Si penemu "larutan senja" di akhir cerita berjudul sama mengancam bahwa kalau tuhan (ya, dengan t kecil) tidak mau mengakui bahwa "sebagian 'dunia'-mu adalah ciptaanku", ia akan meneteskan "Larutan yang akan membuat dunia tak sempurna, tak lagi indah!" ke dunia tuhan, dunia yang baru saja disempurnakan dengan "larutan senja" yang dicuri tuhan dari si penemu itu. Karena tuhan tidak mau juga mengakui hak cipta si penemu, cerita ini tamat dengan "dua orang anak manusia" yang "menangis ketakutan" karena dunia mereka, yang tadinya sempurna, ditelan "awan-awan bergulung, suasana ... hitam," hasil ramuan si penemu. Dua orang ini berdoa, "Ya Tuhan (ya, dengan T besar—mereka berdoa kepada si penemu yang telah mengalahkan tuhan dengan t kecil!) apa salah kami hingga Kau (ya, dengan K besar) ciptakan bencana alam?" (Semuanya Larutan Senja, hal. 43.)



Manusia di sini bukan lagi tabula rasa ex nihilo yang baru akan "terbentuk" kemudian. Ia "membentuk", "mencipta", Ia Tuhan itu sendiri. Lengkap dengan (paling tidak dua) umat yang mengakui kebesaran-Nya.



Saya tidak tahu apakah ini agenda Ratih Kumala secara sadar untuk menjungkirbalikkan tatanan dunianya sendiri. Saya rasa itu tidak penting. Yang penting adalah bahwa tatanan itu memang berubah.



Satu cerita lagi yang bagi saya akhirnya mengurai benang merah kumpulan cerpen ini adalah "Anakku Terbang Laksana Burung", cerpen yang "diadaptasi dari Injil Mathius, Kitab Perjanjian Baru." Ratih Kumala mengakhiri versi gospelnya, yang diceritakan oleh Perawan Maria (jadi The Gospel According to Mary the Virgin, bukan Mary Magdalene the Whore), di bagian pas kedua Maria itu mengunjungi kubur Yesus yang ternyata kosong. Malaikat yang turun dari langit menjelaskan (seperti yang dia lakukan dalam Mathius, Markus, Lukas, dan Yohanes), "Dia telah bangkit," dan Perawan Maria pun menurut, mengulangi kata-katanya pada Maria Magdalena, "Ia telah bangkit." Sebagai narator cerita ini kemudian ia melanjutkan, "Saat itu aku tahu, anakku telah terbang." (Semuanya Larutan Senja, hal. 113.) Tahu. Maria tahu bahwa anaknya telah bangkit.



Saya tidak ingin membahas konsep "bangkit" Ratih Kumala yang di sini kelihatannya campuran antara "terbang" laksana burung dan "moksa" laksana dewa (cf. Yohanes 20: 17, "Kata Yesus kepadanya [Maria Magdalena], 'Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa ...'"), tapi konsep "tahu" Maria tadi sangat penting. Perbedaan paling mendasar antara cerpen ini dan The Gospel According to Matthew adalah bahwa dalam versi cerpen ini, according to Mary/-rk- (begitu Ratih Kumala menulis inisialnya di akhir cerita), Yesus tidak perlu membuktikan kebangkitannya. Tidak perlu marah-marah ("Ia mencela ketidakpercayaan dan keheranan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya." (Markus 16: 14)), tidak perlu merasa tidak diperhatikan muridnya nama-Nya pun mereka lupa ("... datanglah Yesus sendiri mendekati mereka ...Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia." (Lukas 24: 15-16)), tidak perlu meyakinkan seorang pun skeptis seperti Tomas ("Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20: 29)).



Saya sering berpikir bahwa The Gospel According To Jesus Christ, novel Saramago itu, adalah sebuah apokrifa, sebuah gospel sekuler, yang membuat kita percaya. Nah, "Anakku Terbang Laksana Burung" ini rasanya bagi saya seperti apokrifa (mungkin harus ditulis di antara [kurung tegak] seperti teks-teks Alkitab yang "tidak terdapat dalam naskah-naskah yang dinilai paling baik atau kuno") yang justru ultra-religius, sebuah gospel yang menuntut kita untuk percaya.



[Saya ingin tahu apakah -rk- sengaja memilih mengadaptasi Matius dan bukan Markus, Lukas, atau Yohanes karena di antara gospel-gospel itu Matius jugalah yang paling tidak peduli tentang keaslian, kemurnian cerita-ceritanya. Seperti ditulis dalam buku Pastur Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, terbitan Kanisius: "Dalam Mat tidak ada bekasnya bahwa penulis menjadi saksi mata (telinga) tentang apa yang diceriterakannya. Sebaliknya, ia menggantungkan diri pada tradisi sebelumnya (mrk, Q, dll.). Seorang saksi mata pasti tidak berbuat demikian. ... mrk dan Luk kadang-kadang nampaknya lebih asli dan murni daripada Mat. Ternyata Mat menyusun, mengatur dan mengartikan ucapan-ucapan Yesus dengan bebas sekali." (Hal. 87.)



Juga apakah dengan begitu arah pandangan -rk- dalam menulis cerita ini sama dengan arah pandangan Matius & Co. yang "persis terbalik dari arah pandangan seorang sejarawan ... yang tidak mempunyai minat 'historis' [sehingga tidak perlu bukti] ... [yang tidak ingin membawa pembaca] kepada Yesus dahulu, tetapi sebaliknya: Yesus dahulu dibawa kepada jemaat sekarang ... [yang] berupa pewartaan yang mau membina, memperteguh dan menjernihkan iman kepercayaan yang diandaikan saja." (Masih buku Groenen, hal. 77.)



Apakah "Anakku Terbang Laksana Burung" ingin membawa Yesus yang telah bangkit/terbang entah ke mana kepada kita sekarang?]



Kedua perbedaan ini sangat penting karena dalam cerita-cerita yang lain di Larutan Senja kita pun ditantang untuk percaya tanpa ada bukti, ataupun kalau ada bukti, itu pun berupa bukti-bukti mistis yang membutuhkan kepercayaan tersendiri, ekstra, untuk percaya bahwa mereka memang bukti, bukan kebetulan-kebetulan saja, juga untuk tahu apa itu yang mau dibuktikan.



Dalam "Gin Gin dari Singaraja" misalnya, si pencerita yang "antara percaya tidak percaya" bahwa Gin Gin yang baru saja kenalan dengannya di bus sebenarnya sudah meninggal tiga tahun lalu akhirnya percaya juga setelah kartu nama yang ia berikan ke Gin Gin waktu itu suatu pagi ia temukan "tergeletak di bantal sebelah". (Larutan Senja, hal. 72.)



Untuk mempercayai logika sebuah cerita hantu kita dituntut untuk percaya hantu itu ada, bahwa Gin Gin yang tiga tahun lalu mati mendaki gunung sekarang sudah siap untuk turun gunung ke Singaraja untuk dingabenkan (akhirnya). Bagaimana kita harus percaya? Bukan dengan bukti tentu, karena kalau begitu kita akan selama-lamanya terombang-ambing antara percaya tidak percaya. Kita harus yakin saja.



Sistem kepercayaan ini juga pembalikan dari sistem yang dulu ada di Tabula Rasa. Tokoh-tokoh di situ mencoba untuk memperbaiki hidup (walau gagal terus) dengan prinsip: "Tak pernah lagi kugubris suara hatiku, terlalu cengeng. Itu tidak membuatku kuat. Maka, aku mulai menggunakan otakku. Logikaku ternyata lebih bisa membawaku ke tahap hidup yang lebih baik." (Tabula Rasa, hal. 135.)



Destination: sebuah utopia Lockean? Bisa saja. Yang jelas trayek rute maskapai Tabula Rasa akhirnya tak pernah sampai ke situ.



Karena skeptisisme Ratih Kumala pada daya otak membahagiakan manusia itu sudah ada waktu itu pun. Contohnya waktu Galih pertama kali ketemu Krasnaya di Mausoleum Lenin: "Sedetik kemudian hati—dan bukan akal—mendorongku untuk tak melepaskan pandangan dari dia. Tiba-tiba akalku memanggilku kembali, mengingatkanku akan pemenuhan rasa ingin tahu pada Lenin ... Di jalan keluar baru aku sadar—dan ini saat—[sic] saat penuh di mana aku menggunakan akalku kembali[—]bahwa aku tak dapatkan keduanya: Lenin dan gadis itu." (Tabula Rasa, hal. 14)



Saya tidak tahu apakah sekarang ini hati yang digubris lagi, yang dituntut untuk percaya, supaya dunia dalam cerita-cerita di Larutan Senja berputar; tapi paling tidak cerita-cerita itu kelihatannya memang berusaha menunjukkan, dengan serentetan kejadian, bahwa untuk membuat manusia jadi lebih kuat, diperlukan lebih daripada hanya otak saja.



Cerita terakhir di Larutan Senja juga tentang keyakinan (dan mereka yang tidak yakin). Qatrun/Cimeng setelah dewasa bermimpi melihat Nabi Muhammad yang "penuh wibawa berdiri di atas buroq." Wajah Muhammad tidak terlihat jelas (cf. Lukas 24: 16 tadi) tapi Qatrun melihat jelas buroq seperti apa, "Seperti sampan yang panjang." Waktu ditanya ustaznya, "... bagaimana kau tahu Muhammad naik buroq, bukan naik sampan?" Qatrun menjawab, "Tahu! Aku tahu, Ustaz! Itu buroq, bukan sampan."



Sekali lagi, Cimeng, seperti Maria, seperti teman baru Gin Gin, tahu. Mereka yakin, sehingga tidak perlu bukti. Mereka bisa melihat, karena mereka percaya.



[Bahwa keyakinan saat ini sedang di atas angin dalam pertarungannya melawan otak/akal bukan hal yang terjadi tiba-tiba dalam fiksi Ratih Kumala. Kemungkinan bahwa mungkin keyakinanlah senjata pamungkas melawan otak/akal yang (mungkin—kita belum tahu sebenarnya untuk yakin itu kita perlu apa, hati? rasa?, tapi kelihatannya memang bukan otak/akal) berkongsi dengan nihilitas, kekosongan, ketabularasaan, mulai ditulisnya dalam Genesis, novel keduanya–yang nyaris nihil ada di pasaran. Pertarungan ini dalam Genesis diumpamakan sebagai perang batin Pawestri/Suster Maria Faustina untuk percaya atau tidak percaya. Dan, waktu ia pergi ke Ambon untuk menjadi biarawati di tengah-tengah konflik Acang vs. Obet, Suster Maria berpikir, “Perang di depan mataku adalah gambaran nyata perang batinku selama ini. Manusia dan manusia dan setan dan Tuhan” (masih T besar). (Genesis, hal. 124.)



Di sinilah, dalam kitab Kejadian versinya ini, dunia -rk- yang dulunya hanya batu tulis kosong, nihil, mulai diisi. Pertama dengan keyakinan. Kemudian dengan Tuhan: "Manusia tidak bisa melihat Allah, tetapi dia ada." (Genesis, hal. 43.)—yang mulai disetip lagi di halaman kedua dari terakhir: "There is no God." (Genesis, hal. 201), dan kembali lagi di kalimat terakhirnya, "Tuhan telah memberi, Tuhan telah mengambil." (Genesis, hal. 202.) Pekerjaan untuk mengisi hidup (dengan makna) di dunia -rk- memang kelihatannya begitu susah payah, penuh keraguan, sikap mendua, (ada atau tiada makna itu? Bisakah manusia menciptakannya? Bisa, tidak, ah bisa, ah, tidak.), tidak bisa tujuh hari langsung jadi, sudah tiga buku dan bertahun-tahun belum selesai juga, harus dengan perang!



Sekarang, dalam cerita-cerita di Larutan Senja ini, keyakinan (sedang) menang. Manusia bisa melakukan apa saja, asal ia percaya. Ia tidak hanya mampu menciptakan Tuhan, ia mampu mengecilkan(t-)nya, kemudian menggantikannya. Setelah itu terserah dia (Dia) hidup ini punya arti atau tidak.]



Oleh (lagi-lagi) Mikael Johani. Esei ini dimuat di Koran Tempo Minggu, 24 September 2006. Versi yang agak berbeda dibacakan di mejabudaya, PDS HB Jassin, 1 September 2006.








 

Tuesday, May 09, 2006

DETIK-DETIK INDONESIA DI JAM TANGAN BULE JERMAN

Detik-detik Indonesia/Indonesisches Sekundenbuch
Martin Jankowski
IndonesiaTera, Desember 2005
120 halaman


Buku ini saya temukan di rak Novel Indonesia di Gramedia Plaza Semanggi. Sampulnya potret pasar basah sehabis hujan, dua orang perempuan muda tertawa lebar di atas sepeda motor bebek Yamaha merah, seorang ibu-ibu cemberut berjilbab hot pink naik sepeda jengki di belakangnya, semuanya di atas jalan yang terbuat dari batang-batang kayu pipih menghitam karena usia dan air hujan. Sepertinya pasar ini ada di sebuah dermaga, atau di atas sungai, mungkin pintu masuk sebuah pasar terapung.

Sampul ini mirip dengan sampul-sampul buku akademik tentang Indonesia (eg., lihat seri non-fiksi Equinox, sampul-sampulnya juga dibagi dua antara potret dan blok warna polos dengan teks judul dan pengarang sekecil mungkin, hanya potret mereka ditaruh di atas, baru blok warnanya di bawah, buku ini kebalikannya), menjual semacam kitsch penderitaan manusia Indonesia: lihatlah, betapa miskinnya mereka, betapa joroknya pasar ini, dunia mereka, tapi betapa bahagianya! Tertawa-tawa di atas sepeda motor berbensin timbel yang setiap hari memelorotkan IQ mereka! Betapa berwarnanya hidup, merah, merah muda, hijau sayur, oranye dan biru terpal! Oh, betapa lucunya!

Tapi dari komentar Goenawan Mohammad di sampul belakang (satu-satunya, sebuah esai mini?) ketahuan bahwa buku ini ternyata adalah buku puisi. Dan setelah membuka bungkus plastiknya yang menjengkelkan (kenapa bungkus plastik itu selalu begitu ketat, begitu kuat, dikukupun tak langsung tembus? Kenapa percetakan tidak menyimpan tenaga mereka untuk memperkuat jilidannya saja?), ketahuan bahwa ternyata ini adalah buku puisi dwibahasa, Indonesia dan Jerman. (Komentar Goenawan Mohammad tidak memberitahukan ini—catatan untuk cetakan ulang, kalau ada.)

Benar-benar dwibahasa, bahkan kolofonnya pun didwibahasakan (hanya "Catatan"-nya yang tidak diterjemahkan, dan sayang, karena saya justru ingin tahu bagaimana hal-hal yang biasa buat orang Indonesia, eg., "Tofu/Tahu", "Waringinbaum/Pohon beringin", "Ojek" dijelaskan pada pembaca Jerman—catatan satu lagi untuk cetakan ulangnya).

Sebenarnya banyak juga buku-buku puisi dwibahasa seperti ini bergeletakan di rak-rak toko buku (loak biasanya) di Indonesia. Tapi memang kebanyakan terjemahan puisi-puisi Indonesia ke dalam bahasa Prancis atau Inggris, eg., Santa Rosa, edisi dwibahasa Indonesia-Inggris sajak-sajak Dorothea Rosa Herliany—penyunting buku ini—terjemahan Harry Aveling, atau antologi dwibahasa, eg., Anthologie Bilingue de la Poésie Moderne Française suntingan Wing Kardjo. Jarang ada penyair asing yang satu bukunya komplit diterbitkan berdwibahasa di Indonesia. Apalagi penyair asing yang menulis sajak-sajak tentang Indonesia. Sajak berbahasa asing tentang Indonesia yang pernah diterbitkan dalam bentuk dwibahasa seingat saya hanya sajak R.F. Brissenden "Walking Down Jalan Thamrin" (yang satu ini "Jalan Thamrin di Denpasar", baris pertamanya), yang diterjemahkan jadi Menyusuri Jalan Thamrin oleh Sapardi Djoko Damono dalam antologi dwibahasanya Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia.

Menyertakan bentuk asli bahasa Jerman sajak-sajak ini (Martin Jankowski memang orang Jerman, selengkapnya klik saja www.martin-jankowski.de) banyak keuntungannya. Kita bisa melihat bentuk wadag asli sajak-sajak ini (biasa saja, vers libre, dengan stanza cukup panjang), dan, karena sajak-sajak ini semuanya tentang Indonesia, kita bisa melihat dengan kata-kata apa Martin menerjemahkan apa yang dilihatnya di Indonesia (atau tidak perlu diterjemahkan? eg., becak tetap becak, angkot tetap angkot, ojek tetap ojek. Bahkan bis pun, yang seharusnya bus, tetap bis (dalam "lalu lintas dalam kota, versi Indonesia")), kemudian akhirnya kita bisa melihat kata-kata apa yang dipilih oleh penerjemahnya untuk menerjemahkan sajak-sajak berbahasa Jerman tentang Indonesia ini (kembali) ke dalam bahasa Indonesia (atau bukan bahasa Indonesia? eg., klopfen lässige sprüche diterjemahkan jadi "berlagak santai dan cool" dalam "Bali Beach Boys" (judul asli "Bali Beach Boys")), dan ini jadi lebih menarik lagi karena penerjemahnya adalah Katrin Bandel, orang Jerman juga! (yang sudah sejak kira-kira tahun 2001 menulis esai, puisi dan cerpen dalam bahasa Indonesia. Kumpulan esainya Sastra, Perempuan, Seks mungkin kritik sastra Indonesia paling sedikit basa-basinya akhir-akhir ini.)

Seorang penyair berbahasa ibu Indonesia mungkin akan tergoda untuk menerjemahkan puisi yang ia lihat dalam rangkaian kata-kata Martin daripada rangkaian kata-kata itu sendiri. Karena toh rangkaian kata-kata itu usaha untuk menerjemahkan sebuah puisi yang Martin rasakan, atau lihat bukan? Kalau menurut penyair Indonesia ini kata-kata yang dipilih Martin kurang pas, pantaskah ia sebagai penerjemahnya memilih kata-kata yang lebih pas, dengan alasan ia lebih tahu bagaimana menerjemahkan puisi, oke, roso, tadi dalam bahasa Indonesia? Jawabannya mungkin boleh-boleh saja asal kalau terjemahannya jadi cukup jauh dari kata-kata aslinya, ie., kalau terjemahan vers libre Martin jadi terlalu libre, si penyair penerjemah ini akan punya kewajiban untuk menyebut terjemahannya, eg., Imitasi, ala Robert Lowell.

Katrin Bandel, sebagai orang Jerman yang menulis dalam bahasa Indonesia dan Jerman dan menerjemahkan puisi Jerman ke dalam bahasa Indonesia mungkin justru tidak punya godaan ini. Mungkin dia tidak akan tergoda untuk sok lebih tahu, ataupun tersentil egonya karena hei, ini bahasa ibuku, tentu aku lebih tahu! Yang tersisa hanyalah masalah klasik penerjemah yang menerjemahkan ke dalam bahasa yang bukan bahasa ibunya: bagaimana membuat terjemahannya jadi sealami, seasli, seidiomatik mungkin?

Kalau melihat dari bahasa Indonesianya di buku ini, dan di esai-esainya di Sastra, Perempuan, Seks, Katrin juga tidak punya masalah ini:

Jakarta itu besar
taruhlah kau mau ke
pertama kau naik ojek sampai
lalu pakailah angkot ke
di situ masih ada becak tapi becak itu hanya boleh membawamu sampai
setelah itu kau mesti melanjutkan perjalanan dengan bajaj

("lalu lintas dalam kota, versi Indonesia")

Mungkin hanya "pakailah" dan "melanjutkan perjalanan", terutama "-lah" dan "me-"-nya di atas yang kedengaran agak kaku, terlalu formal. Mungkin Katrin ingin menghindari penggunaan "naik" di atasnya dan belum senyaman Amir Hamzah memenggal bentuk resmi kata kerja. Tapi pemenggalan baris-barisnya setelah preposisi ke, sampai, ke, sampai, yang menipu seakan-akan itu awal sebuah enjambment dan ada lanjutannya di bawah, terdengar sangat segar, hanya sehelai rambut dari bahasa lisan.

Justru ini menunjukkan mungkin Katrin di sini melakukan apa yang saya kira bisa saja dilakukan oleh penyair penerjemah berbahasa ibu Indonesia tadi. Apakah baris-baris berbahasa Jerman Martin terjemahan dari transkrip dari penggalan-penggalan petunjuk arah yang dia dengar waktu tersesat di Jakarta? Saya tidak tahu. Apakah Katrin tahu? Seberapa dekat hubungan penyair-penerjemah mereka? Saya tidak tahu. Tapi coba bayangkan seandainya iya, bisa saja cara penerjemahan yang tergampang adalah Katrin bertanya pada Martin penggalan-penggalan tadi aslinya bagaimana? (Coba lihat trasnkripnya, apa kamu sempat merekamnya?) Dengan cara ini Katrin akan menerjemahkan sebuah terjemahan kembali jadi bentuk sebelum ia diterjemahkan. Semacam usaha untuk mendekatkan puisi Martin pada kenyataan di sini (Jakarta, kelihatannya, dalam sajak ini). Semacam usaha William Carlos Williams menulis sajak-sajak tentang Paterson menggunakan "the speech of Polish mothers", penduduk kota itu.

Cara yang lain tentu, dan bisa saja ini justru lebih gampang lagi, menggunakan imajinasi kepenyairan Katrin sendiri untuk membayangkan kira-kira bagaimana petunjuk-petunjuk arah dalam bahasa Jerman itu akan terdengar dalam bahasa Indonesia dan bagaimana merangkainya menjadi sebuah sajak.

Tapi mungkin sebenarnya tidak begitu penting mengira-ngira bagaimana Katrin menerjemahkan sajak-sajak Martin. Yang lebih penting adalah hasilnya. Dan sebagai sajak-sajak Indonesia, ada yang sangat menyenangkan: kejernihannya. Seperti menonton kembali hal-hal yang sering kita lihat setiap hari di jalan-jalan, setelah disulak dulu debu-debu di permukaannya:

manusia dengan kaki kotor
dan kemeja bersih di tengah asap

("tiba di Jakarta")

Martin sering menangkap sulawan-sulawan seperti ini. Seperti juga preman yang lebih "punya harga diri" daripada polisi di "Razia dekat Lembar di Lombok", atau penjaga pura di Bali yang menuduh orang Jawa "kotor" kemudian "membungkuk … minta sumbangan sepuluh kali lipat dari yang biasa" (di "Pertukaran budaya"), atau Sri Sultan yang "Sekretarisnya komputer, kereta kencananya Mercedes" (Sri sultan sedang tidur (Bangsal Itu)").

Kelihatannya ini yang dimaksud Goenawan Mohammad dengan "nada dasar … terpesona, … terbelalak" sajak-sajak Martin di komentarnya di sampul belakang. Tapi kurang tepat menyimpulkan nada (apalagi nada dasar!) sajak-sajak Martin sebagai sesuatu yang terpesona dan terbelalak. Yang sering diamati Martin, seperti dalam contoh-contoh di atas, adalah kemunafikan, anakronisme, mungkin keabsurdan poskolonial dunia ketiga yang kelihatannya lebih sering membuatnya nyengir, tertawa kecil (mungkin sekali dalam hati) daripada terpesona atau terbelalak, yang kemudian diungkapkannya dengan sulawan dan ironi yang nadanya cukup datar, deadpan (dengan muka tenang anggota-anggota Rammstein saat menghadapi panah api di panggung, khas orang Jerman?), dan tidak jarang lucu, membuat kita nyengir hehehe juga.

Goenawan membandingkan puisi-puisi "perlawatan", "tualang" Martin yang terpesona dan terbelalak dengan Sitor Situmorang yang "terpekur". Saya rasa kalau memang mereka harus dibandingkan, perbedaannya bukan itu. Sajak-sajak Sitor jauh lebih banyak "aku"-nya. Sajak-sajak tualang Sitor terasa sepi dan terpekur karena "aku" Sitor adalah aku si anak hilang yang memang sering merasa sepi dan terpekur:

—luka dalam pun terus menganga—
sayatan panah kenangan di dasar jiwa
bisikan purba, air dan langit Danau Toba.

"Sayatan panah kenangan" yang biasa saja mungkin, kalau saja ia tidak ditembakkan oleh angin danau Zürich! ("Angin danau Zürich" juga judul sajak ini.)

Sementara sajak paling terpekur dan sepi di buku Martin adalah sajak terakhir, "Surat musim gugur ke Bandung", satu-satunya sajak (seperti yang diisyaratkan judulnya) yang tidak berlatar Indonesia, walaupun tetap tentang Indonesia juga, tentang betapa si aku merindukannya:

dalam gelap kamar-kamar jerman cahaya
selatan masih menyala

di mataku
aku buta

Apa si aku buta karena matanya becek dengan air mata? Atau kenangan-kenangan indah menyilaukan bersinar neon 100 watt?

Sitor terpekur dan sepi di tualang, sementara Martin sepi menangis sendirian di negeri, rumah, kamarnya sendiri. Itu perbedaannya. Itu bukan terus berarti selama tualangnya di Indonesia Martin kemudian selalu gembira, terpesona, terbelalak. Seperti juga saat Sitor mampir ke rumah, kesepiannya juga tidak terus langsung hilang:

gembira—barangkali—pulang
bingung mencari tanda-tanda asli
di tengah malam
asal semula.

("Di pegunungan Tanah Karo (alam asal semula)")

Tidak banyak aku lain di sajak-sajak Martin karena mungkin raison d'être mereka adalah ini:

hanya orang yang pernah menyaksikan ramainya arakan ke pura di hari raya
yang mengenal cahaya berkelip-kelip di tengah hijaunya padi muda
dan melihat warna langit di atasnya akan percaya pada lukisan-lukisan itu
bahwa burung-burung bunga teratai ikan-ikan selembut mimpi
penggembala itik dan perempuan di pemandian itu
sungguh ada dan cahayanya pun sungguh seperti itu

("Perpisahan dari Ubud")

Supaya orang-orang yang tidak pernah menyaksikan ramainya arakan ke pura percaya bahwa semuanya sungguh ada dan sungguh seperti itu, kelihatannya dalam detik-detiknya di Indonesia Martin memutuskan untuk melupakan aku-nya, mebuat sajak-sajaknya menjadi potret-potret Indonesia yang tentu saja sudah dia manipulasi dengan magic wand Photoshop Penyairnya, distort di sini, blur di sana, sharpen di mana-mana.

Semua orang yang berusaha mengekspresikan puisi yang dilihatnya di tanah asing mengalami kegalauan sama yang dialami Van Gogh di Nuenen, waktu dia memutuskan untuk menjadi perekam kehidupan petani. Van Gogh merasa dia harus melukis mereka seperti bagaimana mereka akan melukis mereka sendiri. Melihat dunia dengan kacamata mereka (atau tanpa kacamata, karena mereka terlalu miskin untuk membelinya!). Dengan obsesi inilah Van Gogh melukis Pemakan Kentang.

Dalam sajak-sajak Martin ada obsesi yang sama. Yang dia wujudkan dengan memberi tempat sebanyak mungkin pada suara-suara orang Indonesia sendiri (eg., "Ayu" di "percakapan di tengah macet lalu lintas di Menteng, Jakarta"). Dengan rendah hati meminjam suara-suara mereka, dan membuka hatinya pada apa sebenarnya yang terjadi di tempat-tempat yang dikunjunginya (Wonosari, Depok, Kebun Rendra, &c.)—kehangatan Martin (eg., "dan menerima semangkok / gado-gado yang / harum bumbunya mengisi hari / aku tidak memesan dessert / tapi ketika aku pergi tanpa pamit / dia berkata sampai bertemu besok" - "Gado Gado") membuat saya jadi semakin sebal dengan V.S. Naipaul yang gelisah skeptis waktu dia datang ke Indonesia di Among the Believers dan nyinyir sinis waktu dia datang lagi untuk Beyond Belief—Martin berhasil membuat sajak-sajaknya terdengar asli tanpa kehilangan suaranya sendiri.

Mikael Johani tinggal di Ciledug, Tangerang, di atas jam 9 malam dari Gambir naik angkot C01, lima ribu sampai depan kompleks.

Monday, May 01, 2006

YANG HILANG DARI ELLIPSIS ADALAH INDONESIA (YA DAN TERUS KENAPA?)

Ellipsis: poems and prose poems
Laksmi Pamuntjak
Jakarta: Pena Klasik, 2005
89 halaman

Buku kecil berwarna biru gelap berisi sajak dan sajak prosa bahasa Inggris Laksmi Pamuntjak ini mengejutkan karena saya tidak menyangka Laksmi bisa menulis seperti ini. Dia lebih terkenal (dan mungkin hanya di antara gastronomer Jakarta) sebagai penulis Jakarta Good Food Guide yang isinya terlalu banyak penyedap rasa. Laksmi lebih peduli menciptakan kembali suasana restoran, sehingga sering lupa memberitahu sebenarnya rasa makanannya seperti apa. Contohnya dia mengutip salah satu temannya yang setelah makan foie gras di Oasis langsung berteriak, "I thought I had died and gone to heaven!" ("Mati aku, dan sekarang aku di surga!"), sementara kita yang belum pernah ke surga tetap bingung rasa foie gras Oasis itu seperti apa. Karya terakhirnya sebelum ini pun mengecewakan, kumpulan terjemahan puisi-puisi Goenawan Mohammad ke bahasa Inggris yang kehilangan banyak kekuatan aslinya karena Laksmi terlalu banyak menerjemahkan maksud dan arti daripada gambar (eg. "and allow the globules of blood in the glass to mold" untuk "membiarkan gumpal darah di gelas itu menghijau" di "Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam"—'menghijau' mungkin maksud/artinya memang 'mold', menjamur, tapi dengan memilih kata 'mold', bukan 'go green' misalnya, Laksmi jadi kehilangan warna hijau itu).

Tapi anehnya, perhatian Laksmi yang besar kepada rekonstruksi suasana, seperti polisi yang mencoba merekonstruksi TKP seakurat mungkin, jadi hal yang menguntungkan di buku berjudul Ellipsis ini. Detail yang dikumpulkannya begitu banyak sehingga mereka akhirnya tanpa diminta pun menumpahkan artinya sebagai tanda terima kasih untuk kebaikan Laksmi memungut mereka sebelum lenyap: "… the break / of day from a moving train: / it leaks its sheen little by little, / as if from a level distillery; spreading sideways as opposed to top down, …" "pagi / dari balik jendela kereta / bocor rintik-rintik cahayanya / dari tong telentang / jatuh bukan ke bawah, ke samping malah, …" ("Night Train: Mid-March"), atau waktu dari balik jendela pesawat yang baru tinggal landas dari La Guardia dia melihat New York "… the city lies tall … a magic cathedral; all, seemingly, / within the span of a human hand." "… kota itu, jangkung, … katedral ajaib; semua, sepertinya / muat di telapak tangan."

Laksmi menulis tentang banyak tempat-tempat asing, dengan idiom asing (paling tidak, bukan Indonesia) pula ('level distillery'—tidak dijelaskan metafora ini dari mana, yang jelas bukan dari pabrik anggur Cap Orang Tua) sehingga buku ini kadang terasa seperti Lonely Planet: Lyric Poetry, yang memuat ulasan tentang kota-kota yang membuatnya tergoda untuk mengambil pena dan menggubahnya menjadi sajak. Dari judulnya saja (banyak tempat lain di sajak dengan judul-judul lain yang bukan nama tempat, baik yang disebutkan maupun dirahasiakan): Vermont, La Guardia, Shanghai, Bourbon (New Orleans), Picasso Museum (Barcelona). Tentu Laksmi bukan penyair Indonesia pertama yang melakukan ini, dia hanya mengikuti jejak petualang-petualang lain, Sitor Situmorang, Rendra, Goenawan Mohammad. Yang membuat saya menanyakan hal tidak penting itu: tapi buku ini ditulis dalam bahasa Inggris, bisakah dia dianggap sebagai sastra Indonesia?

Tidak penting, kecuali kalau dalam sajak-sajak ini Laksmi, baik dengan bahasa, tema, ritme, jiwa, atau apapun, ingin menunjukkan keindonesiaannya. Kalau memang begitu, akan ada dua masalah, bagaimana menunjukkan keindonesiaan dengan bahasa Inggris, dan berhasilkah ia? Tapi kalau tidak, ya, tidak ada masalah. Kalau begini kita bisa tenang membaca buku ini dan menilai sajak-sajaknya hanya dari sisi estetika formal, seperti apakah bahasa(Inggris)nya bagus? Apakah dia berhasil menggubah kepuitikan yang dia lihat di La Guardia, di Vermont, di Bourbon, menjadi puisi yang bisa membuat kita merasakannya lagi?

Dalam soal bahasa, selain menggunakan kata 'bubur ayam', 'rendang', dan 'wayang purwa' tanpa dimiringkan seperti yang, misalnya akhir-akhir ini, dilakukan Monica Ali dengan patois Bengali di Brick Lane dan Rattawut Lapcharoensap dengan istilah-istilah Thailand seperti 'luk' di Sightseeing, mengeja nama Bisma, Salwa, Wisnu, Siwa, Krisna, Karna, Gayatri dan Amba dengan ejaan Indonesia, dan sekali menyebut Taman Ria, tidak begitu banyak keindonesiaan di 35 sajak di buku ini. Beberapa kali Laksmi menulis tentang 'love motel', satu puisi bahkan berjudul "The Love Motel", dan ini adalah sesuatu yang (selain khas Spanyol, juga) khas Indonesia. Orang Jakarta menyebut tempat seperti ini antara lain sebagai Hotel Transit, dan perbuatannya sebagai 'check-in' ("Gila, check-in di situ murah banget ya!", misalnya), tapi Laksmi memilih memakai idiom Inggris untuk menggambarkan tempat ini (dan yang halus juga, bukan yang lebih kasar, Fuck Motel misalnya, walaupun dia memakai kata itu sendiri, 'Fucking', di baris ketiga, mungkin karena dia ingin melihat yang indah di perbuatan yang kotor ini, mungkin karena 'fucking' tidak sepenting 'love': "Fucking came second on the agenda, …", "Seks? Itu urusan nanti, …"). Ini bisa diinterpretasikan dua cara: dia tidak melihat kemungkinan untuk mengembangkan, paling tidak untuk dia sendiri, patois Inggris-Indonesia (Indonglish?) yang sekarang mungkin salah dan tidak idiomatik tapi menarik sebagai eksperimen dan mungkin di masa datang akan menjadi cukup kuat untuk menerobos masuk Oxford English Dictionary, seperti yang sudah terjadi dengan patois India, Karibia dan Singapura misalnya, atau dia melihat kemungkinan itu tapi memilih untuk menggunakan Inggris yang benar dan idiomatik tapi aman. Dan memang (untungnya!) menurut saya di antara penulis-penulis Indonesia lain yang menulis dalam bahasa Inggris, saat ini Laksmilah yang idiomnya paling terdengar alami.

Isi tentang Indonesia tidak banyak, yang paling menarik mungkin di "The Love Motel" waktu pasangan yang sedang check-in di cerita ini (bentuknya sajak prosa 4 paragraf) keluar makan bubur ayam dan menemukan "… wedged between the parsley, the spring onions and the fried shallots was the omelet (sic), rolled and sugared like tamago. Though they were suckers for Chinese food, they were both Javanese—quick to appreciate sweetness in unexpected places." "… di antara seledri, daun bawang, goreng bawang: telur dadar, digulung dan digula seperti tamago. Mereka paling senang Chinese Food, tapi mereka juga Jawa—suka yang manis-manis, apalagi yang tidak seharusnya." Ada juga sajak prosa tentang rumah lamanya, "Home" (yang menyebut 'rendang'), cerita Amba di Mahabharata ("After Bisma Defeated Salwa"), sindiran tentang tamu pesta kawin ('all 1,400 of them', di "Lives"), dan kritik tentang jilbab ("so clearly a mock skin that belies / what simmers beneath." "jelas hanya kulit palsu yang membungkus / yang mendidih di baliknya.") di "Woman Child" yang juga menyebut 'Taman Ria' dan 'wayang purwa' tadi, tapi mereka pengecualian. Kelihatannya memang lebih baik, paling tidak untuk sementara, untuk meninggalkan masalah keindonesiaan sajak-sajak ini dan memeriksa estetika formalnya lagi.

Bicara tentang estetika formal, bentuk, bahasa, tema, etc., tentu kita harus bicara tentang pengaruh. Tersangka pertama adalah Sylvia Plath, bukan hanya karena salah satu sajak di sini berjudul "Afternoon of the Petunias: An Ode to Sylvia Plath" "Bunga-bunga Petunia Siang Itu: Oda untuk Sylvia Plath", tapi juga karena gaya Laksmi mirip. Banyak menyebutkan bunga, 'verbena', 'magnolia', 'petunia', 'begonia', 'jasmine' dan menjelaskan anatominya; banyak menyebut warna 'blue' (warna duka?) bahkan "the slate blue of / de Chirico" "hijau biru de Chirico" ("La Guardia …")—Plath menulis paling tidak dua puisi "Conversation Among the Ruins" dan "The Disquieting Muses" diinspirasi oleh/tentang lukisan de Chirico berjudul sama; banyak menggunakan nada kalimat, seperti nada di baris-baris sajak Plath, yang sering terdengar ingin membuka obrolan, pernyataan yang kemudian diikuti pertanyaan ragu-ragu, eg. "Heaven's palette, Louisiana kitsch, Vasculum. In which order?" "Palet surga, kitsch Louisiana, Vasculum. Mana dulu?" ("Box"); banyak mengabsen nama dewa-dewi Yunani Kuno (walaupun ini biasa di penyair-penyair Anglo-Saxon lain, angkatan manapun), 'Artemis', 'Hades', 'Hera', 'Athena', 'Aphrodite', dan beberapa manusia biasa (sekalipun mitos), 'Antigone', 'Creon', 'Helen' (dua kali).

Secara visual, pembagian stanza vers libre Laksmi lebih acak daripada Plath yang mengatur jumlah baris dalam tiap stanzanya dengan sangat ajek. Pengaturan visual sajak-sajak Laksmi lebih mirip, misalnya saja, dengan sajak-sajak prosa Goenawan Mohammad.

Kebanyakan sajak di kumpulan ini ingin saya sebut sebagai sajak lirik duduk-duduk, sajak lirik yang idenya muncul waktu penceritanya sedang duduk-duduk (adakah yang ditulis saat itu juga? Dalam Moleskine yang menolak duduk anteng di atas paha?). Sekedar contoh, di kereta malam, "Night Train", dua kali, "Mid-January" dan "Late March", dan "In the Train, Like Before"); di kafe, "Two Women Sitting at a Window Table in a Café"—di mana Laksmi duduk? Meja di sudut?; di bandara dan dalam pesawat, "La Guardia One Blue Saturday Afternoon"; di Picasso Museum, dua kali juga, "11 am at …" dan "4.30 pm at …"). Kemudian, sambil sesekali mencontek catatan di tumpukan Moleskinenya dia berceloteh tentang segala macam hal yang tadi berhasil dia amati dari kursinya. Seperti yang sudah saya katakan, Laksmi cukup berhasil merekonstruksi tempat-tempat yang dia lihat itu dengan kumpulan detail seperti laporan pandangan mata wartawan gonzo (mungkin dia harus ganti Moleskinenya setiap beberapa hari!). Contoh yang bagus, ya, cuplikan dari "La Guardia …" di atas tadi: puisi yang hampir saja terjebak menjadi apa yang pernah dijelaskan Pound kepada Eliot sebagai 'hanya fotografi', diselamatkan oleh komentar pendek "semua … muat di telapak tangan", yang menjadi caption mengharukan untuk potret panorama kota New York dan pesawat-pesawat yang sedang menunggu di landasan. Caption ini pun tempatnya pas, di stanza terakhir setelah pesawat (yang ditumpangi penceritanya) tinggal landas. Laksmi menjadikan saat dia menyadari apa arti semua yang dilihatnya itu sebagai puncak sajak, menempatkannya pas di puncak iramanya, pas saat pesawat naik meninggalkan banalitas di darat. Di sajak ini kepuitikan yang dilihatnya (di bangku plastik keras La Guardia!) berhasil diceritakannya kembali kepada pembacanya.

Kebanyakan sajak lirik bercerita tentang kehilangan, begitu juga sajak-sajak Laksmi (judul bukunya saja Ellipsis!): kehilangan tempat tinggal tetap ("Home", "The Dough of You", dan saya curiga semua petualangan keliling dunia Laksmi adalah usaha untuk mencari rumah baru, atau paling tidak untuk mengobati kehilangannya), dan kehilangan kekasih ("The Bed Last", "Love is Like a Bruise", "The Love Motel"—walau yang terakhir ini berakhir dengan seorang wanita yang, kalaupun dia tetap belum menemukan rumah maupun kekasihnya yang sebenarnya, akhirnya paling tidak menemukan siapa dirinya sebenarnya).

Kalau melihat apa yang ingin dia bicarakan, Laksmi terasa sangat dipengaruhi oleh para penyair pengakuan. Penyair yang menjadikan semua tentang dirinya, hidupnya, keluarganya, dosa-dosanya, sebagai subyek utama. Setiap sajak adalah bilik pengakuan. Plath salah satunya juga, dan, yang membuat memamerkan borok sendiri (dan keluarganya) pertama kali jadi hip dengan Life Studies, Robert Lowell. Sajak-sajak seperti ini (tapi hanya yang berhasil) mengejutkan kita dengan keberaniannya untuk jujur, karena tidak seperti di bilik pengakuan, sebuah sajak pengakuan bisa didengar siapa saja. Kelemahannya tentu saja kalau si penyair terus-terusan terobsesi memamerkan dosa-dosanya, dia akan kehabisan dosa untuk diakui (dan apakah dosa selalu menarik?) dan membuat kita bosan dengan obsesinya untuk mengakui dosa-dosanya (satu dosa tersendiri juga!).

Ada dua pengaruh langsung Lowell yang bisa dilihat jelas di Ellipsis, satu, sajak prosa panjang (15 halaman) berjudul "Lives" mengingatkan saya tentang lives di "91 Revere Street", selingan prosa panjang tentang rumah masa kecil Lowell di Life Studies. Dua, permainan kata 'blue' beruntun di "La Guardia …" ("blue collar confessional. / Topaz blue, cornflower blue, the slate blue of / de Chirico …" "pengakuan kerah biru. / Biru topaz, biru Bunga Jagung, hijau biru de Chirico …") mirip dengan yang dilakukan Lowell di "Father's Bedroom" ("blue threads … blue dots … blue kimono … blue plush straps." "benang biru, bulatan biru, kimono biru, tali [sandal] biru."), juga di Life Studies.

Pengaruh Plath yang langsung seperti ini juga ada. Dua sajak "Picasso Museum" Laksmi mengingatkan saya akan "All the Dead Dears", yang ditulis Plath tentang Museum Arkeologi di Cambridge. Ketiga-tiganya merenungi benda-benda mati yang dipamerkan di situ dan ketiga-tiganya diakhiri dengan munculnya waktu, 'clock' dan '4.30' di sajak(-sajak) Laksmi dan "tick / And tack of the clock", "tik / dan tak jam dinding" di sajak Plath, yang mengingatkan penceritanya akan kematian itu sendiri.

Selain itu, penggunaan waktu di kedua judul sajak "Picasso Museum" Laksmi ("11 am" diikuti oleh "4.30 pm") adalah sesuatu yang pernah juga dilakukan Plath dengan "Monologue at 3 a.m." dan "The Surgeon at 2 a.m." Tentu penyair-penyair lain dari manapun dalam bahasa apapun sering juga memakai waktu dalam judulnya, tapi kalau Laksmi menulis odanya untuk Plath karena dia memang senang dan sering membacanya maka pencopetan-pencopetan kecil seperti ini sangat mungkin terjadi, bahkan secara tidak sadar. Tidak apa-apalah, seperti kata Wilde, "Genius steals!" Kita hanya perlu memastikan bahwa kita tahu kemungkinan pengaruh ini, karena Laksmi memilih untuk bekerja di bawah payung tradisi Barat dan kita, pembacanya di Indonesia, harus berjaga agar dia tidak puas berteduh, apalagi sampai bersembunyi, di situ. Jangan sampai rusuh Rendra-Lorca terulang lagi. Ribut-ribut oh, ternyata, betapa besarnya! pengaruh Lorca pada Rendra tidak perlu terjadi seandainya kritikus sastra Indonesia tidak terburu-buru memuji Rendra seakan-akan dia anak ajaib yang jatuh dari langit baru kemudian jingkrak-jingkrak, jenggot terbakar malu sendiri saat kemudian menyadari betapa kental darah Lorca dalam nadi Rendra.

Ada perbedaan yang (mungkin) mendasar antara sajak-sajak Laksmi dan sajak-sajak pengakuan yang berhasil. Di "Afternoon of the Petunias" (oda Laksmi untuk Plath) tertulis bait ini, "Keeping mum: isn't that what this means?" "Bungkam: bukankah itu arti semua ini?", sementara mantra sajak-sajak pengakuan justru bicara, bicara dan bicara. Borok bernanah seperti apa yang ada dalam hidupmu? Pamerkan!

Pernyataan Laksmi yang terakhir ini bisa diinterpretasikan dua cara juga: satu, dia sedang melakukan otokritik terhadap sajak pengakuannya, karena dia sadar Plath pun pada akhirnya (setelah Ariel kira-kira) kehabisan subyek untuk dibicarakan. Dia hanya mengulang-ulang motif dan tema yang sama, kematian, kematian, kematian. Dan mengulang-ulang diri sendiri bukankah sama saja dengan diam? Laksmi (mungkin) sadar dengan kemungkinan ini di sajak-sajaknya sendiri dan karena itu dia mengakuinya. Atau, dua, Laksmi salah mengerti raison d'être Plath dan Lowell dan penyair-penyair pengakuan lainnya dan memutuskan bahwa semua sajak pengakuan, baik yang berhasil maupun yang tidak berhasil, akan berakhir sebagai obsesi tentang diri sendiri dan karena itu tidak ada salahnya juga bicara, bicara, bicara dan menyumpal mulut dengan kata-kata sendiri (wong tidak akan ada yang peduli juga kok, siapa tahu ini kebisuan yang enak).

Kalau hanya melihat sajak-sajak yang dimuat di Ellipsis ini, kelihatannya jawaban kedua lebih benar. Pada akhirnya membaca sajak-sajak di Ellipsis menjadi membosankan karena walaupun Laksmi berpindah-pindah tempat dan waktu tapi semua sajaknya selalu berbentuk keluhan; kira-kira setelah sajak ke-9 di kumpulan ini, "The Bed Last"—tentang sebuah kamar hotel (nanti diulangi lagi di "Hollow" dan "The Love Motel"), kita sudah tahu Laksmi itu seperti apa dan kira-kira nanti kalau dia pergi check-in lagi misalnya, keluhannya akan bagaimana. Chairil Anwar pernah bilang bahwa "pokok-pokok yang berulang-ulang telah mengharukan si seniman" adalah "percintaan, kelahiran, kematian, kesepian, matahari dan bulan". Di Ellipsis ada percintaan (banyak), kelahiran (di sajak-sajak tentang anak, "Silent Prayer for My Daughter on Her 9th Birthday", "by the recovery room"—diakhiri dengan bayinya mati, "A Tiny Seed") dan kesepian ("Ellipsis" dan hampir semua sajak yang ditulis di perjalanan), tapi berulang-ulang terharu di kumpulan ini tidak diikuti dengan berulang-ulang menciptakan cara baru untuk mengungkapkan keharuan (yang berulang-ulang!) itu.

Buku ini perlu lebih banyak kematian. Ada, dia ada, tapi dia muncul terlalu indah, tidak berbau busuk, tidak terasa seperti mati, seperti maskara hitam di muka segar merah muda. Seperti Goenawan Mohammad, Laksmi juga punya semacam sentimentalisme untuk keindahan, obsesi patologis untuk mencari keindahan di kesedihan yang paling dalam sekalipun, ada, ada, pasti ada kalau kita mau melihatnya, kebiasaan yang berguna untuk seorang penyair tapi bisa juga menjadi kacamata kuda yang membuatnya tidak bisa melihat, apalagi merasakan, penderitaan (karena penderitaan itu juga indah).

"And so you nod / and fold your wings / neatly, like / a napkin laid aside. Welcome back, death." "Dan kau mengangguk / melipat sayapmu / rapi, seperti / serbet untuk nanti. Mati, kau datang lagi." ("Words".) Saya kira penggambaran kematian yang indah, bersayap rapi seperti serbet di sini lebih dari sekedar ironi, kelihatannya Laksmi memang melihat kematian sesopan dan setidakberbahaya itu. Ini salah satu contoh bagaimana sentimentalitas untuk keindahan di buku ini benar seperti yang digambarkan Wallace Stevens, "Sentimentality is a failure of feeling." "Sentimentalitas adalah kegagalan merasakan."

Untuk itu saya usul, Laksmi, lirik lagi keindonesiaanmu. Tinggalkan pastiche Plathmu. Sudah terlalu banyak penyair yang mencat sajaknya dengan haru hijau biru de Chirico. Kalau memang kamu akan terus menulis sajak dalam bahasa Inggris, turuti nasihat il miglior fabbro itu, Pound, buat sesuatu yang baru, yang belum pernah dibuat orang lain. Seperti pelacur-pelacur yang memilih bule di untaian fuck motels khatulistiwa kita, juallah keetnikanmu! Barat (paling tidak bahasa Inggris) masih buta tentang itu. Dan mungkin juga dengan mulai memperhatikan Indonesia yang tidak sering kamu kunjungi di buku kecilmu ini mungkin kamu akan menemukan hal-hal baru yang tidak bisa kamu lihat dari balik mejamu di sudut gelap kafe itu, dan bayangkan, mungkin juga kamu akan menemukan cara-cara baru untuk mengungkapkan keharuanmu. Bungkam: bukan itu lagi artinya! Menarik bukan (paling tidak) kalau misalnya kamu justru menulis "the slate blue of the South Sea", dengan alusi Nyai Roro Kidul dan Nyi Blorong! Baru, dan bahkan, seperti juga banyak hal lagi yang bisa kamu temukan di Indonesia, lebih berbau kematian (menyan!) daripada seribu kanvas de Chirico.

Mikael Johani tinggal di Ciledug, Tangerang. Tidak giat di komunitas manapun.